Meitheamh 27, 2005

Numismatik bukan sejenis tumis-tumisan



Apa yang anda tahu tentang pustakawan? Ya... paling tidak, pasti anda akan menjawab pustakawan adalah sesuatu yang berhubungan dengan informasi, profesi dan manajemen buku, majalah, jurnal pada perpustakaan. Apa yang anda ketahui tentang fotografi? He'eh betul sekali...fotografi adalah sesuatu yang berhubungan dengan kamera, seni, foto dan melukis dengan cahaya atau sesuatu yang berhubungan dengannya.

Bagaimana dengan filateli, mungkin ada yang tidak tahu namun lebih banyak lagi yang mengetahui dengan pasti bahwa filateli adalah sebuah hobi yang berhubungan dengan benda pos, umumnya, sangat pasti, mereka yang mendalami hobi ini menyukai perangko. Bahkan semakin tua dan langka sebuah perangko beberapa peminat filateli rela merogoh kantong terdalam semampu mereka untuk memilikinya.

Sekarang saya ingin bertanya, apa yang anda ketahui tentang numismatik? ... Pasti sebagian besar dari pembaca artikel ini tidak pernah bisa membayangkan sesuatu yang berhubungan dengan kata itu. Oh ya,... tentunya tidak ada hubungannya dengan tumis menumis masakan.

Tebakan anda sebagus tebakan saya, tidak pernah sama sekali mendengar sama sekali tentang numismatik, sampai profesi sebagai pustakawan secara kebetulan mempertemukan saya dengan sebuah buletin yang baru saja terbit Bulan Juni ini.

Buletin tentang numismatik yang diterbitkan Asosiasi Numismatik Indonesia (ANI) cabang Jawa Barat. Pasti terkejut kan!! untuk kata yang anda belum pernah dengar ternyata memiliki sebuah asosiasi,...tingkat nasional lagi. Bahkan sebuah cabangnya mampu menerbitkan buletin mengenai apa yang mereka dalami.

Apa sih sebenarnya numismatik itu? Tidak berbeda dengan filateli yang merupakan sejenis hobi untuk mengumpulkan benda-benda dengan spesifik tertentu, dalam hal filateli tentunya benda yang dimaksud berhubungan dengan pos. Numismatik juga mengumpulkan benda-benda tertentu dengan spesifikasi tertentu juga yaitu tepatnya yang berhubungan dengan mata uang. Kesamaan lainnya antara numismatik dan filateli, semakin tua dan langka maka akan semakin bernilai harganya di mata penggemarnya.

Masuk akal juga sih bila ada kelompok orang tertentu yang menyukai jenis hobi ini. Karena mata uang memiliki sejarah yang tidak kalah panjangnya dari sejarah keberadaan manusia itu sendiri. Pada awalnya memang manusia tidak mengenal mta uang sebagai alat tukar namun sejak sistem barter tidak lagi menjadi mode, mata uang menjadi hal yang umum untuk menjadi alat tukar.

kebiasaan tersebut tentunya sudah dimulai ribuan tahun lamanya.Uang tertua yang saat ini tercatat pertama kali dicetak di Lydia sebuah negeri di Asia Minor Bagian Barat saat ini bagian dari Turki. Uang tersebut dicetak pada akhir abad ke tujuh sebelum masehi dengan bahan dasar emas putih.

Di Indonesia sendiri sejarah mata uang tercatat sejak adanya kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di seputar Nusantara saat itu. Berdasarkan prasasti Bulai sekitar tahun 860 M mata uang pertama yang berlaku di Indonesia dikembangkan oleh kerajaan Mataram Syailendra.

Pada prasasti tersebut di atas disebutkan mata uang milik kerajaan Mataram Syailendra terbagi dari dua jenis berdasarkan bahan dasar pembuatannya yaitu emas dan perak. Sedangkan berdasarkan beratnya mata uang saat itu dibagi menjadi tiga yaitu Masa, biasa disingkat Ma, memiliki berat 2,4 gram, Atak dengan berar 1,2 gram dan yang paling ringan di sebut Kupang atau sering disingkat dengan Ku memiliki berat 0,60 gram.

Dalam perkembangannya mata uang yang beredar di Indonesia juga dipengaruhi oleh mata uang yang beredar pada bangsa-bangsa lain. Bangsa Cina adalah yang pertama kali tercatat mampu melebarkan peredaran mata uangnya sampai ke Nusantara, dengan ciri khas uang logam dengan lubang persegi empat di tengah-tengahnya Orang Kita biasanya menyebutnya dengan kepeng.

Selain Cina beberapa bangsa yang juga pernah laku dipakai di Nusantara antara lain Bangsa Arab dengan Dinarnya, Bangsa Belanda dengan Guldennya, Perancis, Inggris dan Jepang juga pernah tercatat memiliki sejarah dalam perkembangan mata uang di nusantara yang akhirnya dikenal dengan nama Indonesia.

Menilik sekilas tentang sejarah mata uang di Indonesia maka tidak heran ada saja orang-orang terobsesi mengoleksi mata uang yang pernah beredar di Indonesia selengkap mungkin. Tengok saja Anwar Karim warga Tasikmalaya yang mendalami numismatik sejak tahun 1965. Pernah keliling Indonesia, bahkan pada tahun 1974 pernah berkunjung ke beberapa negara tetangga, untuk memuaskan dahaga akan hobinya itu.

Namun sebuah kejadian yang sangat memukul jiwanya terjadi pada tahun 1988 dimana koleksi yang dimilikinya raib digondol maling. Memaksanya "mengasingkan" diri selama tiga tahun berkelana kembali ke kota-kota di Indonesia untuk menutupi kesedihannya yang luar bisa saat itu. Selama kurun waktu tiga tahun itu, bahkan dia tidak mengetahui ketika isteri yang dicintainya meninggal dunia. Sungguh benar-benar pengorbanan yang sepertinya untuk orang yang tidak faham dunia numimastik akan geleng-geleng kepala.

Sebenarnya tidak aneh juga bila melihat tingkah seseorang yang sudah terobsesi pada sesuatu. Masing ingat beberapa waktu lalu juga di blog ini saya menulis tentang Don Vincente? Dia rela membunuh pemilik toko buku, pendeta, penyair dan anggota dewan kota demi melengkapi koleksi buku langkanya. Total nyawa yang hilang sia-sia akibat kegemaran Don Vincente mengoleksi buku langka sebanyak delapan orang...ck ck ck.

Kembali ke soal numismatik, Indonesia merupakan lahan yang sangat menggiurkan bagi penggemar numismatik. Karena sejarah bangsa ini yang juga sangat kaya, maka mata uang juga daya tarik yang tentunya sangat menjanjikan. Belum lagi saat awal kemerdekaan dimana dalam masa tersebut banyak sekali jenis uang-uang yang beredar di Indonesia, sebut saja uang zaman revolusi, uang daerah, uang Soekarno dan uang Irian Barat yang saat itu masih di kuasai Belanda.

Bagaimana seseorang numismatik dapat mengetahu mutu dan kualitas mata uang yang akan dikoleksinya? Selain dari pengalaman ternyata mereka juga memiliki standar sendiri dalam menentukan kualitas nilai mata uang kuno berdasarkan keadaan fisiknya.

Paling teratas dalam kualitas mata uang para penggemar numismatik biasa menyebutnya dengan Proof (PR). Jenis uang ini biasanya memang dicetak untuk kepentingan kolektor. Biasanya juga selain untuk keperluan perkenalan koin baru juga untuk memperingati momen-momen tertentu. Uang dengan kualitas model ini memiliki permukaan yang mendekati sempurna, bila memakai istilah numismatik, mirror-like surface.

Agak turun sedikit, kualitas yang juga sangat baik disebut dengan uncirculated (unc). Kondisi yang dimaksud adalah di mana uang (biasanya yang terbuat dari logam) tersebut tidak memiliki cacat sedikitpun akibat terpakai, karena itu disebut uncirculated atau "tidak beredar". Di Eropa khususnya Belanda dan Perancis kondisi uang logam seperti ini disebut FDC atau Fleur de Coin.

Kondisi selanjutnya adalah extremly fine (ef atau xf), kondisi koin ini walau masih bagus namun gambar dalam koin tersebut tidak begitu jelas namun secara keseluruhan kira-kira kondisi uang tersebut mendekatai 90-95% dari uang aslinya. Berturut berdasarkan persen kualitas uang numismatik menyebut beberapa tingkatan lagi di bawahnya yaitu Very Fine (vf), Fine (gf), Very Good (vg) dan terakhir Good (g).

Kondisi uang tentunya menentukan nilai jual kembali di antara para kolektor. Semakin sempurna kondisi uang maka akan semakin mahal harga nilai jualnya. Misalnya untuk sekeping logam 2,5 Gulden Wilhemina yang dicetak pada tahun 1898 saat ini kira-kira harganya untuk kondisi Fine Rp. 50.000.000, Very Fine Rp 150.000.000, extremly fine Rp 250.000.000 dan Uncirculated Rp. 500.000.000.

Nilai yang luar biasa bukan untuk sekeping uang? Mungkin, saat uang itu beredar pertama kali tidak memiliki nilai nominal yang luar biasa seperti yang saya sebutkan di atas. Karena telah memiliki nilai tambahan seperti historis, kualitas, dan mutu maka akan bernilai berlipat-lipat ganda.

Jadi jangan terburu-buru membuang recehan lima perak anda karena sudah tidak laku lagi. Simpan barang sekeping dua keping di tempat yang aman. Mungkin saja nanti bila cicit buyut anda menemukannya kembali telah bernilai sangat tinggi...selamat mencoba!


1 Comments:

Blogger Agung Jatmiko said...

Wah...ternyata numismatik membutuhkan ketelatenan serta membutuhkan pengetahuan yang khusus mengenai sejarah perkembangan uang..

Kalau mas/mbak tidak keberatan, apakah saya bisa mengadopsi sebagian tulisan mengenai numismatik ini dalam tulisan saya? kebetulan saya wartawan ekonomi, tabloid kontan dan saya memang hendak menulis mengenai numismatik ini.

5:35 p.m.  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home