Bealtaine 31, 2005

Aku Bercerita Tentang...



Aku bercerita tentang pohon jambu yang dapat dipanjat
Kau bercerita tentang hujan yang membasahi dagangan

Aku bercerita tentang ayah yang suka memperbaiki rumah
Kau bercerita tentang penjual jamu yang suka melucu

Aku bercerita tentang burung pipit kehilangan pohon hinggapannya
Kau bercerita tentang pertandingan silat yang menegangkan

Aku bercerita tentang pasar lama yang makin hambar
Kau bercerita tentang anak terawehan sedang mempersiapkan obor

Aku bercerita tentang puasa dan makanan lezatnya
Kau bercerita tentang lebaran dan sate gajih di Sewandanan

Aku bercerita tentang malam yang ditimbuni berita
Kau bercerita tentang siang yang masih bisa ditanami lagu

Aku bercerita tentang masa depan yang tak menentu
Kau bercerita tentang masa lalu yang seperti taman surga
Puisi Mustofa W. Hasyim

Pada awalnya, setiap hari dimulai dengan hal yang biasa-biasa saja. Bangun Pagi, shalat subuh.... mandi pagi, sarapan lalu berangkat kerja tak lupa membaca Bismillah dan doa sapu jagat Al ikhlas, Al Alaq, dan Annas tiga kali. Ya memang sepertinya hari-hari yang dilewati tidak lebih dari program komputer yang tinggal di pencet tombol enternya untuk memulai dan kembali memencetnya untuk menghentikan.

Sebuah hari yang biasa-biasa saja...Sampai akhirnya esok tiba, hari ini, yaitu kemarin untuk esok, bahkan sebongkah emaspun tak mampu mengembalikannya. Hari ini bukan kemarin dan kemarin juga bukan hari ini...tetapi kemarin juga adalah hari ini, karena hari ini tidak akan ada tanpa kemarin....bahkan esok mungkin tidak mungkin muncul.

Di sinilah di mana tadi pagi tiba-tiba aku memandangi bidadari di rumah. Aku sadar esok adalah hari ini, karenanya detik itu juga aku sapa Sang Bidadari "kamu adalah mahluk terindah yang pernah aku lihat" lalu dia tersenyum dan menjawab " kalo gitu boleh dong aku ikut miss universe" dan aku tertawa mendengar jawabnya.

Ah, rasanya ingin aku melupakan rutinas hari-hari ini, dan duduk saja di beranda memandangi wajah itu. Karena aku tidak tahu esok kamu masih di sini atau sudah terbang ke sana menyusul bidadari-bidadari saudaramu. Tapi aku tidak khawatir karena masih kusimpan erat selandangmu, yang kucuri waktu itu, agar kamu tidak dapat kembali ke sana. Aku ingin kamu di sini saja, aku tak rela bila kamu kembai ke kahyangan.

Pernah kamu berkata, sesuatu terlihat luar biasa karena ada yang biasa-biasa saja. BIla semua Indah maka tidak ada yang indah, bila semua buruk maka tidak ada yang buruk. Tanyaku waktu itu, apakah di kahyangan semua indah? Ya!, jawabmu. Lalu apa gunanya bidadari di sana, kataku lagi, itulah mengapa aku membutuhkan kamu di sini...untuk menjadi sesuatu yang luar biasa.

Tadi pagi aku meninggalkan bidadariku di rumah, untukku pandangi lagi esok hari. Karena masih kusimpam selandang ini.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home