Aibreán 11, 2005

"Terapi Jiwa Si Pustakawan"



Pasti anda mengira ketika membaca judul di atas bahwa ada pustakawan yang sedang miring kan? Sekali lagi anda mengira salah yang saya maksud adalah tentang terapi penderita stress melalui perpustakaan atau tepatnya buku-buku di perpustakaan.

Apa hubunganya perpustakaan, rumah sakit, psikiater serta stress?? hmmm bingung bukan? Pasti lah, krena di Indonesia fungsi perpustakaan belum begitu maksimal, hanya menjadi tempat (umumnya) mencari data dalam melengkapi riset-riset penelitian serta bahan skripsi atau tugas-tugas sekolah dan kuliah. Padahal beberapa fungsi perpustakaan seharusnya anda tahu, adalah antara lain sebagai tempat rekreasi dan life time education.

Tetapi bahkan saya yang berprofesi sebagai pustakawan sendiri terkejut, ketika menemukan sebuah artikel di www.ekuator.com, bahwa ternyata perpustakaan dapat juga menjadi sebagai tempat penyembuhan bagi penderita stress ringan. Perpustakaan sebagai tempat terapi ini sudah berjalan di negaranya Pangeran Charles (yg udeh mungkin ga jd raja karena keputusannya menikahi Camelia).

Sebenarnya apa sih Biblioterapi itu, pertanyaan itu berputar di kepala saya sejak membaca artikel tersebut, di ekuator disebutkan keterangan tentang apa dan bagaimana biblioterapi bekerja

"Di Inggris, ahli medis dan pustakawan telah menjalin kerjasama dalam suatu tim guna merancang suatu program terapi baru: menawarkan bacaan (khususnya novel) bagi pasien dengan beragam keluhan. Terapi alternatif yang dikembangkan para dokter keluarga di Kirklees, West Yorkshire, ini akan mempertemukan penderita depresi dengan 'biblioterapis' dari perpustakaan setempat. Biblioterapis ini selanjutnya akan memeriksa koleksi buku di perpustakaan guna menemukan buku yang sekiranya sesuai untuk pasien tertentu. Diharapkan, dengan buku yang sesuai, pasien akan mendapatkan inspirasi dan menjadi lebih bersemangat."

Konsep biblioterapi sebenarnya bukan hal baru. Ide ini bersumber dari pendapat Aristoteles bahwa tragedi menimbulkan rasa haru dan simpati pada seseorang. Perasaan semacam ini dapat 'membersihkan diri' dan selanjutnya menjadikan seseorang lebih sehat. Brian Bremen, profesor yang memberi kuliah keterkaitan literarur dan penyembuhan di University of Texas, mengemukakan ide inilah yang dikembangkan sekarang ini. Dengan pendekatan modern ditemukan bahwa dengan membaca seseorang dapat mengenal dirinya. Pemahaman ini berdampak positif pada perilaku seseorang.

Oh begitu, jadi nantinya Jurusan Ilmu Perpustakaan bisa dong ditambahkan mata kuliah psikologi hingga dapat memahami perlilaku pemakai yang sedang stress atau tertekan. Memang sih selama saya kuliah dulu ada juga mata kuliah psikologi, namun tidak untuk mengatasai pemakai yang mencoba bunuh diri di bagian referensi.

Kalau memang buku dapat mengurangi tingkat stress sebenarnya kita punya satu senjata pamungkas yang juga berbentuk buku. Bila dibaca dengan tenang dan khusyuk serta diresapi maka efeknya bahkan lebih hebat dari hanya buku-buku karya pengarang manapun di dunia yakni Al Quran, setuju?

Bagaimana sebenarnya Biblioterapi bekerja? begini paling tidak sistem tersebut bekerja untuk anak usia sekolah yang saya kutip dari sumber yang dapat saya temukan di internet

"Bibliotherapy can be conducted with individuals or groups. In individual bibliotherapy, literature is assigned to a student for a specific need. The student may read the material or the literature may be read to him/her. The activities that follow the reading are also conducted individually with the student. S/he discusses the literature with a teacher, writes a report, talks into the tape recorder, or expresses his/her reaction artistically. Through this process s/he is able to unblock emotions and relieve emotional pressures. Additionally, by examination and analysis of moral values and the stimulation of critical thinking, s/he develops self awareness, an enhanced self concept and improved personal and social judgment. This outcome should result in improved behavior, an ability to handle and understand important life issues, and increased empathy, tolerance, respect and acceptance of others...all through identification with an appropriate literary model. "

Biblioterapi dapat dilakukan oleh satu orang atau lebih. Ternyata selain pustakawan ada beberapa profesi yang terlibat di sana antara lain guru dan teman-teman mereka. Hasil yang diharapkan adalah bertambah baiknya perilaku, kesanggupan menghadapi dan memahami masalah penting dalam hidup mereja, serta bertambahnya empati, toleransi dan respek, serta tidak anti sosial.

Bagaimana pustakawan berperan di sini? saya sendiri merasa beberapa kali teman baik itu teman sejawat (ketika bekerja di perpustakaan swasta) ataupun mahasiswa (ketika bekerja di perpustakaan PT) meminta tolong saya agar dapat mencarikan koleksi-koleksi perpustakaan yang dapat mengatasi masalah pribadi mereka. Paling tidak, bila ternyata buku yang dicari tidak ada mereka meminta saran saya judul-judul buku yang dapat dicari di TB untuk masalah yang sedang mereka hadapi. Bahkan beberapa kali juga saya menjadi tempat tumpahan segala kesah gelisah resah...namun tidak mendesah loh.

Buku memang menjadi jendela manusia untuk melihat cakrawala yang lebih luas. Namun kenapa novel? Saya sendiri belum tahu sebab spesifik kenapa di ekuator.com disebut-sebut buku novel sebagai obat bagi para penderita stress. Tetapi tebakan saya adalah karena di novel terdapat begitu banyak tokoh dan konflik, serta bagaimana para tokoh novel tersebut menangani konflik mereka, yang tentunya dapat dijadikan pelajaran bagi si pembaca. Sekali lagi saya ingatkan bahwa biblioterapi hanya bekerja bagi penderita stress ringan, untuk mereka yang mengidap stress berat tidak disarankan untuk mengikuti terapi ini. Lah bagaimana mungkin, membaca saja tidak bisa konsentrasi.

Mungkin suatu saat nanti perpustakaan selain menerima denda keterlambatan peminjaman juga menerima resep dari para dokter.... tertarik menjadi pasien eniwan?

Sumber
Bibilioterapi anak sekolahan
Biblioterapi Ekuator

0 Comments:

Post a Comment

<< Home