Aibreán 04, 2005

Bila Aku Kangen Ibu...



Bagaimana sosok seorang ibu meninggalkan bekas di hati anda? Ada yang mengatakan mereka begitu merindukan belaiannya ketika kecil dulu, ada juga yang menyinggung-nyinggung soal ibu yang seperti sahabat untuk mereka, tempat menumpahkan semua keluh kesahnya. Ada juga yang walau dahulu ibu mereka sibuk karena ikut bekerja, namun rasa rindu akan buah tangan begitu meronta dalam hati memaksa untuk mengangkat telepon dan mengucap salam pada si ibu yang sekarang mungkin sudah berteman tongkat.

Saya? ya saya bagaimana? apa yang membekas dalam hati ketika kata ibu muncul di hadapan? Saya katakan, yang paling membekas tentang ibu adalah masakannya, khusunya rawon. Ibu saya memang paling jago masak pokoknya yang dimasak ibu, InsyaAllah enak. Herannya, saya ingat dahulu, makanan apapun yang dipegang ibu, pasti lebih enak dari yang saya pegang padahal dimasak pada panci yang sama, bahkan disajikan pada saat bersamaan.

Rawon memang khas Jawa Timur. Ibu saya yang asli Blitar kerap kali membuatkannya untuk kami di rumah. Apa yang membuatnya begitu khas? Mungkin rasa kluwaknya yang eksotis, atau warna hitamnya dengan taburan bawang goreng di atasnya? Ahh tidak penting itu, yang penting adalah begitu ibu masak rawon maka tandanya hari itu akan penuh dengan hal yang enak-enak, paling tidak dalam bayangan saya.

Suasana seperti itu tampaknya yang membekas di hati saya dan kadang menimbulkan rasa kangen di hati saya pada ibu saat ini. Ya memang sudah beberapa tahun belakangan saya tidak pernah lagi merasakan rawon seenak buatan ibu. Bahkan dahuu ketika ibu berhenti membuat rawon, karena kondisinya yang tidak lagi memungkinkan saya sudah mulai merindukannya. Namun kunjungan kami yang tidak jarang ke kampung halaman ibu mengobati rasa kangen ibu, karena hanya bude saya di Blitar yang menyamai kenikmatan rawon buatan ibu.

Setelah menikah, sebenarnya saya berharap isteri juga bisa membuat rawon. Tapi apa daya ternyata kultur betawinya lebih kuat. Isteri saya memang lahir dari orang tuanya yang asli Jawa, namun dia besar di Jakarta dengan lingkungan Betawi yang kental. Buat dia sarapan nasi uduk mungkin lebih terasa nikmat, sebuah kebiasaan yang mulai menjangkiti saya.

Namun saya menghargai usahanya, pernah dia mencoba membuatkan saya rawon setelah Pak Rahman membawakan saya rawon buatan isterinya. Walau haislanya lebih mirip disebut semur daging daripada rawon, tapi ya itulah, namanya juga usaha, bukan begitu bukan, jangan khawatir isteriku aku tetap mencintai kamu kok.

Jadi untuk sementara ini bila saya kangen ibu saya akan minta Jamal, OB kantor saya, membelikan rawon di dekat Walikota Jak-Sel untuk dimakan ketika jam makan siang tiba.

Bahan:
300 gram daging sapi yang agak berlemak
100 gram tauge pendek, dicuci bersih
2 lembar daun salam
4 lembar daun jeruk
1 batang serai, dimemarkan
2 cm lengkuas/laos, dimemarkan
Garam dan merica secukupnya
6 gelas air
Bumbu yang dihaluskan:

4 butir bawang merah
2 siung bawang putih
4 butir kemiri
3 buah kluwek, diambil isinya
2 buah cabai merah

Cara Membuat:
Potong kotak-kotak kecil daging sapi.
Panaskan 2 sdm minyak goreng, tumis bumbu yang dihaluskan sampai harum bersama serai, lengkuas, daun salam dan daun jeruk. Tambahkan garam dan merica secukupnya.
Kemudian, di dalam panci yang sudah diisi 6 gelas air, masukkan potongan daging sapi dan bumbu yang dihaluskan, rebus sampai daging sapi matang dan empuk. Apabila air mengering, tambahkan lagi sesuai selera.
Hidangkan dengan menaburkan tauge pendek diatasnya dan hias dengan daun jeruk.
Untuk 3-4 orang.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home