Márta 16, 2005

Firasat




"Hari ini aku merasakan itu lagi, Ming".

"Firasat itu lagi?"

Mengangguk pelan "Ho oh".

Tepi danau pinggiran Jakarta, dua lelaki duduk di pinggirannya memandangi riak-riak air yang menepi lalu menjauh lagi ke tengah untuk kembali lagi ke tepian danau tempat dua lelaki itu berada dan seluruh pinggiran danau. Kata orang kenapa air di danau tidak pernah diam seperti dalam bak mandi, karena bila memang diam maka kiamat akan datang sebentar lagi.

Pergerakan air danau dan air laut disebabkan karena ada kehidupan di dalamnya, pergerakan sirip ikan, naik turunnya ubur-ubur, lambaian rumput laut dan banyak sekali faktor lainnya penyebab air di danau dan laut tidak pernah diam menandakan bahwa masih ada kehidupan. Bayangkan bila air-air itu terdiam....berarti sudah tidak ada lagi kehidupan dan itu hanya ada satu arti yaitu...kiamat sebentar lagi. Paling tidak begitulah sebab musabab bergeraknya air di danau dan laut yang pernah aku dengar.

Tetapi, sore itu dua orang lelaki di tepi danau pinggir Jakarta, aku dan dia tidak lebih ramai dari angin yang berhembus pelan di antara daun daun pepohonan karet disekitar danau itu. Ya mereka memang begitu, jangan lupa mereka itu aku dan dia maksudnya. Selalu saja begitu...diam lalu bicara sebentar dan akhirnya diam lagi lalu bicara lagi. Ya seperti gerakan riak danau dan angin sore itulah.

"Apa lagi firasat kamu sekarang?" tanyaku

"Ya biasalah, tidak jauh-jauh dari yang dulu-dulu. Lagi-lagi tentang kematian. Tapi kali ini terasa dekat sekali. Sepertinya tidak akan dalam waktu yang lama maksudnya. Mungkin besok atau paling lama minggu depan" Katanya sambil tetap memandang riak-riak air.

"Kamu itu terlalu percaya sama hal-hal begini, maksudku tahayul, nggak baik tau ga. Lagipula apa hak kamu mempercayai semua itu. Kamukan yang selalu berkata kepadaku bahwa semua ada penjelasan logisnya". Kataku sambil memandang bungkus rokok yang terbawa air danau kadang timbul kadang tenggelam.

"Ya memang, tetapi untuk satu ini aku percaya firasatku adalah yang paling logis yang bisa aku terima. Ingatkan, minggu lalu ketika aku merasakan firasat yang sama ? Lalu beberapa hari kemudian pedagang minuman di halte tempat kita biasa menunggu bis meninggal tertabrak BMW. Lalu ketika bulan lalu aku juga merasakan kegelisahan, yang kamu sudah tahu, seminggu kemudian anak tetanggaku jatuh dari pohon mangga dan menimpa ujung pagar lalu meninggal setelah koma di rumah sakit dua hari. Ingatkan???....Ingat??" Dia memandangiku meminta jawaban.

Tapi aku tahu dia tidak butuh jawaban lisan, dia hanya butuh pengakuan bahwa dia benar. Aku diam saja, membiarkan dia mengalihkan pandangannya ke pohon-pohon jati sekitar kami lalu dia berdiri dan memejamkan matanya. Membuka lima jarinya lebar-lebar membiarkan angin-angin berhembus di antaranya.

"Ming, bagaimana kalau kali ini firasat itu pertanda untukku maksudnya pertanda bahwa sesuatu akan terjadi pada diriku?" tanyanya masih memejamkan mata.

"Kalau memang kamu bisa menerima firasat yang tidak logis ini, menurutku kamu juga harus menjawabnya dengan melakukan sesuatu yang selama ini kamu anggap tidak pernah logis"

"Apa itu?"

"Solat!"

"Ah, aku sudah tidak pernah percaya itu lagi, tidak sejak ibuku meninggal. Kamu tahu Ming, bahkan sampai sekarangpun Tuhan tidak pernah menjawab kenapa ibuku Dia ambil dariku. Bahkan ketika dahulu aku masih melakukan apa yang kamu lakukan,... nyedit-nyedit ga karuan, jawabannyapun tidak pernah ada!!"

"Kamu tahu" kataku "kadang aku fikir, buat apa aku berteman denganmu padahal solatpun kamu tak mau. Semua logikamu. Logika yang aneh kadang kamu tidak terima ketidaklogisan tapi di sisi lain seperti firasat ini kamu terima bulat-bulat seperti kebenaran hakiki"

"Aku juga tidak tahu kenapa kamu mau berteman denganku" dia kembali duduk di sampingku sambil menyulut rokok kesekiannya. "Aku sebenarnya ingin tahu alasannya, benar-benar ingin tahu Ming. Tapi aku tahu kamupun pasti tidak bisa menjelaskannya padaku".

"Ya begitulah. Aku mau ke masjid nih, sudah maghrib"

Burung terbang sendirian menghiasi langit petang ini dengan lantunan azan maghrib. Biasanya burung itu terbang bersama teman-temannya membentuk formasi V. Tapi kali ini dia sendirian saja.

Dia memang tidak pernah solat selama yang aku kenal. Tidak logis dan tidak pernah memberikan jawaban katanya. Tapi dia tidak pernah mencegahku untuk melakukannya. Kalau aku solat maka dia akan menunggu di depan masjid sambil merokok atau makan gorengan lalu setelah itu kami berjalan bersama menuju halte bis tempat kami akan berpisah dan mungkin bertemu lagi besoknya. Jadi tidak salahkan kalau kali ini aku tidak berharap banyak paling-paling dia nongkrong lagi di depan masjid sementara aku solat.

"Aku ikut" katanya sambil bergegas ke ruang wudhu "kamu benar, kalau aku bisa menerima firasat-firasat ini kenapa aku tidak bisa menerima solat"

Tercenung, terhenti sejenak tanpa ekspresi aku bilang "ooh OK"....hanya itu!!

Hanya itu yang keluar dari mulutku dari beratus-ratus kemungkinan reaksi yang mungkin muncul. Hanya "ooh OK" saja??!! Bisa saja misalnya aku melompat-lompat kegirangan atau tertawa lebar-lebar. Bisa sajakan aku memeluk dia, tapi tidak....aku hanya menjawab "oooh OK".

"Ayuk, kenapa diam aja?"

"emmm...oooh OK" lagi-lagi kata itu yang meluncur dari mulutku.

Sore itu kami bersisian dalam satu baris mengikuti gerakan-gerakan imam sampai salam. Lalu dia mendekati aku dan berbisik habis ini kita beli gorengan dulu ya...aku lapar nih.

Lagi aku jawab "emm....oooh OK".

Malamnya bulan bersinar seperempat saja, belum lagi datang bulan purnama. Tadi sore di halte sesaat sebelum aku naik bis jurusanku katamu masih kamu rasakan firasat itu. Tapi kali ini kamu merasakan sebuah jawaban. Kepastian akan firasat itu, tapi kamu tidak tahu bagaimana, pastinya tidak bisa menerangkan jawabannya. Yang pasti kamu tahu dan yakin hanya tidak bisa menjelaskan, seperti deja vu.

Treng treeeng!! Bunyi SMS dari telepon genggamku. Hmm, dari siapa malam-malam begini gumamku sambil melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka sebelas sambil malas-malasan membaca berita di layar: Inalillahi, meninggal dunia anak kami jam delapan malam di rumah sakit karena terjatuh dari bis. [Ayah temanmu]


*****

"Ya seperti deja vu, kamu tahu bahwa sebelumnya pernah mengalami suatu keadaan yang persis sama dengan keadaanmu sekarang justru ketika semuanya sudah terjadi, Ming" katamu sore tadi.

"emmm....oooh OK" jawabku.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home