Feabhra 16, 2005

Ekuator is dead?... oh no




Pagi ini iseng-iseng berkunjung ke salah satu situs toko buku online favorit saya www.ekuator.com terkejut saya membaca pengumuman :

"Dalam rangka konsolidasi perusahaan, maka ekuator.com tidak dapat melayani Anda dalam jangka waktu yang belum ditentukan.

Untuk itu kami mohon maaf
."

Ups, wat hapen tea'? ada apa denganmu? Sephia? Akulah Arjunamu? terus terang memang sih saya sudah beberapa lama ini tidak pernah berkunjung ke situs itu tapi... pengumuman itu memang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya dan Ekuator memiki sejarah yang sangat spesial (bisa dibilang cinta pertama). Di tengah-tengah hiruk pikuknya e-commerce Ekuator lah pengalaman pertama saya mencoba rasanya berbelanja melalui internet. Di samping banyaknya pilihan judul-judul buku juga kemudahan cara belanja yang sangat fleksibel. Bayangkan, saat itu hampir semua e-commerce mensyaratkan anda harus belanja dengan kartu kedit yang jelas saya tidak miliki. Namun Ekuator dengan Pedenya memberikan opsi CoD atau Cash on Delivery atau bahasa Indonesianya Bayar di Tempat Aza. Ekuator saat itu memberikan minimal pembelian Rp. 50.000 namun tidak begitu memberatkan menurut saya.

Dengan CoD berati pengiriman buku mau tidak mau harus menggunakan kurir. Sekali lagi saya merasa diuntungkan dengan sistem itu. Karena klaim bisa dilakukan saat itu juga. Tentunya bila ada kerusakan saya bisa dong menolak buku tersebut dan pembayaran bisa dikurangi sesuai buku yang jadi dibeli saja. Ya seribu dua ribu bolehlah kasih tips untuk si kurir, namun ga masalahkan. Belum lagi diskon yang pernah sampai dengan 50% walau ternyata keadaannya tidak sesempurna buku baru namun masih lumayan layak bacalah. Lagian juga bisa dimaklumi dengan diskon 50% itu.

Ahh, saya dan Ekuator, saya ingat beberapa buku favorit yang sekarang nangkring di rak buku datang dari sana. Sebut saja Konrad si Anak Instan, Elegi Guttenberg, Toto Chan Gadis Kecil Di Balik Jendela serta beberapa buku tentang Ikhwanul Muslimin dan Hasan Al Banna (sampai skrg lom tamat euy, itu buku-buku berat banget).

Beberapa toko buku on line lokal memang ada seperti Bearbookstore, Gramedia, Ini Buku dan walau tidak khusus menjual buku online namun Eramuslim juga memiliki toko buku online.

Tapi entah kenapa, keadaan Ekuator yang seperti ini membuat saya sedikit geram (loh kok??) ya saya geram bukan garam itu mah asin. Sesudah beberapa masalah yang dihadapi oleh dunia perbukuan Indonesia, sekarang apa lagi sih?

Siapa sih dulu yang bilang "1st love last 4ever" ???... musti dijitak tuh orang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home