Márta 22, 2005

Indonesian fastfood is more Flexible



Ada yang bilang bahwa salah satu ciri khas masyarakat modern adalah kehidupan yang serba praktis dan cepat. Seperti apa? Ya hampir mirip-mirip dengan apa yang kita jalani sekarang di kota-kota besar. Waktu terasa sangat singkat, rata-rata, berangkat ke kantor ketika matahari belum lagi penuh nyembul di Timur sana dan sampai rumah ketika azan maghrib sudah berkumandang. Keadaan seperti itu tentunya memaksa kita untuk merubah kebiasaan hidup.

Ambil saja satu salah satu contohnya, sarapan. Dibanding beberapa tahun lalu ketika masih memakai seragam putih merah kebiasaan kita umumnya adalah sarapan pagi sebelum pergi termasuk ayah kita yang juga akan ke kantor kadang bahkan juga berbekal nasi dengan masakan ibu. Bahkan makan malampun selalu lengkap sekeluarga di meja makan. Tidak ada yang namanya jajan ketupat sayur atau makan malam sendiri-sendiri dengan disambi nonton TV.

Tapi itu kan dulu, jamannya ketika bapak dan ibu kita sudah sampai di rumah ketika azan ashar belum lagi berkumandang. Ketika seminggu walau masih enam hari kerja namun begitu masih banyak terasa waktu tersisa untuk anak-anaknya di rumah. Zaman saat hanya ada satu channel di TV.

Ternyata derap waktu yang sangat cepat menularkan apa yang di Amerika Serikat sana dikenal sebagai fastfood kepada kita masyarat Jakarta (dan Indonesia tentunya). Seperti juga beberapa gaya hidup barat yang teradapatasi, fastfood di Indonesia tidak harus mirip seratus persen dengan fastfood dengan yang ada di sana.

Mereka memiliki apa yang sering kita lihat di televisi sebagai drive thru, yaitu membeli fastfood tanpa harus turun dari mobil, cukup berbicara lewat semacam intercom lalu pesanan anda akan siap dalam beberapa menit. Sebuah terobosan yang efektif bagi mereka yang memilki waktu yang sangat terbatas. Bagaimana dengan Jakarta, walaupun sebuah frenchise menerapkan sistem yang hampir sama namun kenyataannya di sini sistem tersebut tidak begitu sukses.

Tapi... tunggu dulu ternyata kita lebih bisa menerapkan apa yang disebut-sebut sebagai metode fastfood, paling tidak sesuai dengan selera orang Indonesia. Bukan,...bukan Mc Donald, Kentucky Fried Chicken atau sejenisnya. Namun kita memiliki Nyabu, Kupat dan Naduk.

Nyabu alias nyarap bubur, kupat biasanya terasosiasi dengan ketupat sayur dan naduk alias nasi uduk. Dua istilah yang saya sebut di depan pasti sangat familiar, tapi naduk atau nasi uduk anda pasti merasa belum pernah mendengar kata itu bukan?...Yah, memang itu karangan saya saja, karena kok rasanya janggal bila yang lain ada sebutan singkatnya namun untuk nasi uduk tidak ada.

Sedikit informasi, perbedaan nasi uduk dengan dengan nasi udug adalah di banyak-sedikitnya volume nasi. Nasi uduk biasanya lebih sedikit dibanding nasi udug, tidak percaya? Bila tidak datang saja ke Bojong Gede anda akan menemukan warung nasi udug, yang kebetulan pemiliknya isteri kawan lama saya.

Kembali ke fastfood ala Indonesia, menurut saya kita memang berhasil menerapkan fastfood lebih efektif dibanding orang-orang Amrik. Lah, bayangkan saja sementara mereka harus mengendarai mobil dan atau menelopon untuk mendapatkan fastfoodnya, kita di Indonesia, cukup nongkrong di depan rumah biasanya pagi-pagi yang namanya ketupat sayur dan bubur ayam akan berseliweran. Yah, walau nasi uduk belum ada dalam sejarah fastfood ala Indonesia melakukan pemasaran keliling, namun biasanya penjulan jenis masakan khas Betawi tersebut tidak lebih jauh dari dua gang.

Tidak cukup sampai di situ, ternyata itu namanya fastfood ala Indonesia me'akupasi' ceruk pasar yang lebih luas. Terutama buat warga Jabotabek yang menggunakan jasa kereta api atau kendaraan umum jenis lain akan merasa sangat terbantu dengan penjual makanan di seputar stasiun dan terminal. Biasanya bagi mereka yang menunggu kereta dan bis memanfaatkan sela-sela waktu menunggu kereta atau bis jurusan mereka datang dengan sarapan datau (dan atau maksudnya) menyantap goreng-gorengan pengganjal perut di sana.

Industri fastfood ala Indonesia memiliki jenis yang berbeda untuk waktu yang berbeda. Pagi hari biasanya yang dijual adalah tiga jenis makanan yang saya sebut di atas; buryam, patyur dan naduk. Siang sampai jelang maghrib biasanya yang laku keras adalah jenis makanan seperti somay, bakmie ayam dan makanan-makanan besar mirip nasi padang, warteg dan sejenisnya. Malam hari apa dong? Apa lagi kalau bukan nasgor dan mie rebus. Di luar itu untuk beberapa jenis makanan ternyata tidak mengenal waktu seperti bakso, mie ayam dan pecel lele mau dimakan siang-siang hayooo malam juga ok deh kakak.

Makanan memang salah satu jenis usaha yang tidak pernah surut selain pendidikan dan kesehatan. Untuk industri makanan sepertinya kita lebih bisa mengembangkan corak budaya khas, yang tentunya berbeda setiap daerah. Bubur ayam di Jakarta, nasi pecel di Jatim dan karodek di Bandung adalah contoh ke-khas-an makanan masing-masing daerah Indonesia. Kekayaan yang belum tentu anda temukan di negara-negara lain, karena tentunya mereka memiliki budaya masing-masing. Industri makanan Indonesia semakin berkembang dan menyesuaikan bentuknya sesuai tuntutan perkembangan zaman. Sekarang fastfood ala Indonesia besok entah apa lagi :).

***
Tahukah anda sekoteng yang beredar di Jakarta ternyata beda dengan sekoteng daerah asalnya, Bandung. Di Jakarta sekoteng di jual malam hari dan di minum hangat-hangat, sedangkan di Bandung sekoteng dijual siang hari....dan tebak! Ternyata Orang Bandung minum sekoteng dengan es batu di dalamnya.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home