Bealtaine 23, 2005

Layang-layang : Fly to the sun



Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

Bermain....berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang...

"Oi layang-layang pedal!!" sebuah teriakan entah datang dari mana memberitahu ada layang-layang putus. Sontak Si Iwan, Andri bahkan Vika si tomboy tetangga sebelah berhamburan mengejar layang-layang yang oleng tertempa angin.

Demam layang-layang, tidak seperti demam berdarah yang dapat diperkirakan datangnya, tiba-tiba saja menyerang kampung kami. Benda berbentuk segi empat terbuat dari kertas dan plastik mendominasi pemandangan di langit setiap sore bahkan mengalahkan banyaknya pesawat terbang yang akan mendarat di Halim PK. Dahulu musim layangan biasanya mewabah ketika liburan sekolah tetapi tidak kali ini di mana liburan belum lagi tiba, bahkan mendekati ujian akhir tahun. Namun entah dari mana awalnya tiba-tiba saja musim layangan menjangkit dan menyerang setiap anak di sekitar kampung saya.

Bahkan tidak hanya bermain layangan, Andri tetangga dua rumah dari rumah saya juga memanfaatkan momen ini untuk berdagang layang-layang juga benangnya. Harga layang-layang baik yang terbuat dari kertas maupun plastik (bekas) seharga lima ratus rupiah per dua layangan.

Seingat saya dahulu bila ingin bermain layangan ada beberapa "etika" tak tertulis yang harus di ikuti oleh anak-anak, antara lain masalah buntut. Bila sebuah layangan dipasangi buntut, boleh dengan kertas biasa maupun potongan koran maka artinya layangan tersebut tidak boleh diadu. Pengaturan benang juga menjadi ciri khas tertentu di mana benang tidak boleh seluruhnya terdiri dari gelasan, namun kombinasi dari dua buah jenis benang yaitu beberapa meter di atas benang gelasan dan di bawahnya benang kenur.

Benang gelasan boleh dibilang senjatanya para anak yang hobinya mengadu layangan. Disebut benang gelasan karena benang tersebut memang dalam pembuatannya dicampur dengan "semacam" serbuk kaca atau beling. Karena itu tidak jarang tangan si pemain layangan tergores tangannya akibat gesekan benang tersebut. Benang gelasan yang paling tob saat itu adalah "gelasan 24" tidak jelas kenapa disebut seperti itu.

Namun dari semua benang gelasan yang ada, yang paling ditakuti adalah benang gelasan dobel. Jadi bukan hanya satu benang saja yang digunakan, namun dua lapis benang diikatkan (yang paling parah adalah benang gelasan 24 dobel) dari tali kama sampai beberapa meter ke bawah. Sedangkan benang kenur terbuat dari plastik, hingga lebih ramah dengan tangan pemain layangan.

Benang kenur digunakan karena pertimbangan biaya yang lebih murah dari benang gelasan. Lagipula biasanya layangan akan beradu pada ketinggian yang sama, hingga benang kenur tidak terkena babatan layangan lawan.

Untuk mengontrol layang-layang biasanya anak-anak mengandalkan pada simpul tali kama. Tali kama ini dapat di sesuaikan apakah seoarang anak menginginkan layangan miliknya anteng atau singit. Biasanya kalau yang punya hobi aduan maka layangannya akan di atur sedikit singit, selain akan keliatan sedikit lincah juga katanya memudahkan manufer untuk melilit benang layangan lawannya.

Seorang Ahli layang-layang dari Bandung (Akiat) mengembangkan tehnik khusus dalam mengadu layang-layang, "ia menamai teknik yang digunakannya dengan "jurus garong", yakni cara memainkan layang-layang yang hanya bertumpu kepada kekuatan. Pada perkembangannya, seiring dengan melemahnya kondisi fisik (kini kedua lututnya tak lagi dapat difungsikan maksimal), Akiat mengubah tekniknya menjadi "jurus tempel". "Tak banyak yang mengetahui seluk-beluk jurus ini --meski orang Indonesia sekalipun--, kecuali orang Sunda. Itupun hanya segelintir saja. Caranya, saat beradu, gelasan kita tak boleh melekat pada gelasan lawan. Harus ada jarak sepersekian milimeter. Ketika dirasakan tepat, cepat-cepat kita mengulur benang," (Pikiran Rakyat, 30 Oktober 2004).

Di Indonesia sendiri bila merunut pada asal daerahnya maka layang-layang memiliki tempat dalam hati masyarakatnya misalnya di Jawa Timur di kenal dengan nama Bapangan yang dalam bahasa Jawa Timur berarti rentangan atau perisai, selama diterbangkan. Ia akan terus mengeluarkan bunyi dengung dari alat penghasil bunyi yang dipasangkan di atasnya yang disebut sendaren. Konon, bunyi dengung inilah yang membuat burung pemakan padi takut dan terbang menjauh meninggalkan tanaman padi di sawah

Di Aceh layang-layang dikenal dengan sebutan Geulayang, di buat dan diterbangkan ketika panen untuk mengungkapkan kegembiraan masyakarat Aceh akan melimpahnya hasil panen mereka. Biasanya kaum pria menerbangkan layangan ini hingga sore hari. Untuk menambah semarak suasana, tidak jarang permainan ini juga diperlombakan. Namun demikian, lomba sebenarnya lebih bertujuan untuk menciptakan keakraban sesama warga dan bukan semata-mata untuk memperoleh hadiah.

Bahkan di Sulawesi Tenggara layang-layang atau mereka menyebutnya dengan Kaghati selain untuk pada malam hari digunakan sebagai hiburan sambil menjaga hama babi yang selalu mengganggu kebunnya. Dan siang hari sebagai hiburan menjaga hama monyet/kera atau burung pipit yang selalu mengganggu kebunnya juga dilombakan. Tidak tanggung-tanggung, harus bisa bertahan di angkasa selama tujuh hari berturut-turut. Bila turun sehari saja maka akan dinyatakan kalah.

Ada beberapa jenis layang-layang yang biasa digunakan dalam lomba atau festival. Jenis tradisional, aduan, tiga, atau dua dimensi. Bahkan, ada layang-layang tradisional yang badannya terbuat dari daun gadung, benangnya dari serat nanas, penampang dari rotan, dan pengikat dari lidi. Layang-layang ini disebut Kaghati, yang berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara. ''Layang-layang ini disukai orang Prancis,'' (Republika, 15 September 2004)

Layang-Layang seperti om om yang tergabung dalam grup Koes Plus "Layang-layang yang kusayang, layang-layang yang kusayang, jauh tinggi sekali melayang-layang" Layang-layang masih menempati tempat khusus di masyarakat Indonesia buktinya sebuam musium didedikasikan bagi benda satu ini berlokasi di "Museum Layang-Layang Indonesia" Jl. H. Kamang No 38 Pondok Labu. Museum ini menampilkan berbagai bagunan mulai dari ruang pameran, tempat pelatihan pembuatan layang-layang, pusat cenderamata, hingga museumnya itu sendiri. Kami berharap tempat ini akan menyatukan para pemain, pengrajin, seniman, dan pencinta layang-layang di seluruh Tanah Air.

Museum Layang Layang Indonesia yang terletak di Selatan Jakarta tercatat sebagai yang ke-61 di Indonesia. Secara khusus, sebagai museum layang-layang kedua di Asia Tenggara setelah di Johor, Malaysia. Berbagai koleksi layang-layang dari pelosok Nusantara dapat Anda nikmati di museum ini. Misalnya layanglayang kaongan (Betawi), dara keplok (Jawa Tengah), sriti (Aceh), kagati (Sulawesi Tenggara), goang (Sumbawa) dan lainnya. Ada yang terbuat dari bahan kertas, kain parasut, dan ada juga yang terbuat dari daun gadung (kagati). Koleksi mancanegara di antaranya berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia.

Andri, Vika dan Iwan tentu tidak pernah menyangka layang-layang yang mereka mainkan memiliki catatan panjang. Buat mereka hanya ada satu alasan khusus kenapa layang-layang sore itu menjadi pusat perhatian mereka....kegembiraan...itu saja.

Sumber
Layang di Indonesia

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home