Bealtaine 09, 2005

2000 kilometer di atas imajinasimu




Sekitar Juni nanti sebuah film akan di rilis dengan judul "war of the world" dibuat berdasarkan novel yang ditulis oleh HG Wells pada tahun 1898. Bukan soal film dan pemain yang membintangingya, namun rasa kagum saya HG Wells karena memiliki imajinasi tidak biasa pada jamannya... bisa dibilang sangat akurat mengingat beberapa kisah dalam novel-novel karyanya menjadi kenyataan (paling tidak menyerupai) saat ini (akhir abad 20).

Sebagai seorang yang terlahir pada tahun 1800-an (1866-1946) HG Wells cukup cakap menggambarkan apa yang pada zamannya belum lumrah dan belum lagi diterima oleh masyarakat dalam novel-novelnya. Salah satunya adalah pendaratan manusia di bulan yang baru terlaksana beberapa tahun kemudain setalah kematiannya dalam novel "The First Men On The Moon" diterbitkan pada tahun 1901 tujuh tahun sebelum kebangkitan nasional Indonesia.

Catatan khusus untuk Kisah War of The World ketika petama kali disiarkan melalui sandiwara radio di amrik sana banyak sekali pendengarnya yang panik hingga keluar dari rumah-rumah mereka, saking meyakinkannya kisah tersebut.

Satu lagiu penulis kisah-kisah ilmiah yang juga membuat saya terheran-heran adalah Julius Verne(1828 - 1905) kelahiran Perancis yang menelurkan antara lain Voyage au centre de la terre (Journey to the Center of the Earth, 1864); De la terre à la lune (From the Earth to the Moon, 1865); Vingt Mille Lieues sous les mers (20,000 Leagues Under the Seas, 1869); and Le tour du monde en quatre-vingts jours (Around the World in Eighty Days).

Saya paling suka novel Karya Jules Verne 20,000 Leagues Under the Seas dimana dalam kisah tersebut tokoh utamanya "Kapten Nemo" memiliki sebuah kapal selam "Nautilus", yang dapat menyelam sekitar 96,651 kilometer di bawah laut. Bahkan mampu melewati benua-benua yang dikenal ganasnya karena memiliki suhu yang sangat ekstrim seperti Benua Atartika. Saat buku itu di terbitkan sejarah kapal selam itu sendiri masing dibilang seperti perkembangan robot saat ini dimana robot-robot yang kita kenal sekarang sangat lamban, tidak efektif, lucu sebagai hiasan namun dengan fungsi yang sangat minimal.

Bahkan saking tidak percayanya masyakarat saat itu pada kapal selam dua negara Inggris dan Amerika menolak karya Robert Fulton yang mendemonstrasikan melumpuhkan kapal layar (dan uap) menggunakan kapal selam dengan ranjau (tahun 1800).

Terbukti saat ini kapal selam merupakan sebuah senjata yang sangat berbahaya apalagi dengan senjata dan tenaga nuklir yang disandangnya. Namun apa daya, bahkan sampai krisis Ambalat pecah beberapa saat lalu Indonesia hanya memiliki dua kapal selam bertenaga diesel dengan suku cadang "entah bagaimana".

Apa sih sebenarnya yang membuat dua pengarang di atas dapat "mengembara" demikan jauhnya melampui logika kebanyaka orang pada zamannya? adalah imajinasi jawabannya. Baik HG Wells maupunm Jules verne bukanlah penemu orisinal yang ada dalam kisah novel-novel mereka. Bila diurut bahkan sejarah kapal selam sudah ada sejak abad ke 17 dibuat oleh bangsa Ukraina disebut Chalka, entah bagaimana Imajinasi Jules Verne membuat hal yang sepertinya tidak mungkin pada saat itu menjadi mungkin dalam imajinasinya dan dituangkan dalam novelnya.

Semua orang dapat berimajinasi, kita juga bisa, bahkan anak kecil sangat jago bila diajak berimajinasi. Berkhayal tidak karuan membayangkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Namun bedanya dua orang penulis kisah ilmiah di atas dengan kita adalah kemampuan mengaitkan imajinasinya dengan data-data, menuangkannya dalam kertas dan membuat imajinasi mereka menjadi sebuah rantai yangs aling berhubungan menjadi cerita yang begitu menarik.

Saking nyatanya imajinasi mereka bahkan tidak heran bila saat ini ada yang bilang bahwa beberapa kemajuan dan pencapaian ilmu pengetahuan terilhami dari kisah-kisah ilmiah semacam karya-karya HG Wells dan Jules Verne.

Sebuah pekerjaan rumah bagi penulis karya-karya ilmiah Indonesia saat ini yang menciptakan novel dan cerpen futuristik namun sering kali melupakan data-data dan detil penting yang saat ini walau masih menjadi polemik namun mengarah pada kebenaran. Karya-karya fiksi ilmiah dan futuristik kita sepertinya masih berkutat pada sebuah bayangan besar masa depan, sebuah kisah yang mungkin bila terjadi pada saat ini atau masa lalu tidak ada bedanya. Kepuasan saya justru ketika bagaimana alat dan perkakas dalam kisah futuristik menjadi kenyataan, atau mengarah ke kenyataan sebenarnya seperti Shocker dan blue tooth yang ternyata diilhami dari communicatornya Star Trek.


Sumber
HG Wells
Jules Verne
Sejarah Kapal selem
Kapal Selem Indonesia
Shocker: Star Trek influences gadget design
Gambar dari sini

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home