Meán Fómhair 15, 2004

Utopis atau Visioner?




Sebelumnya saya pernah menulis tentang seuatu yang masih ada sangkut pautnya dengan hal ini lalu saya tergelitik untuk meluaskan cakupannya dan sedikit menyentuh lagi tentang harapan. Kenapa harapan? karena bila anda mencermati postingan sebelumnya itu saya berbicara soal visi, dimana tentunya tak ada sebuah visi tanpa harapan atau bisa juga di bilang target (namun untuk posting ini saya lebih suka menyebutnya harapan).

Sebuah (atau beberapa?) harapan menempati tempat yang khusus pada diri manusia. Menurut legenda Yunani ketika kotak Pandora terbuka hanya meninggalkan harapan dan spirit (saya tidak tahu bagaimana menerjemahkan spirit) untuk manusia. Karena harapan masih belum menjadi sebuah kenyataan, maka sebuah harapan berhubungan erat dengan imajinasi.

Sekarang, tahukah Anda apa kata Einstein tentang imajinasi? Katanya, Imagination is more important than knowledge. Masih seputar imajinasi, seorang teman kita juga melanjutkan pernyataan Eistein itu dengan pendapatnya. Menurut dia, "Bukan berarti pengetahuan tidak penting. Sinergi keduanya, imajinasi dan pengetahuan, justru akan menghasilkan ramuan yang lebih menarik, terkadang menuai senyum, menumbuhkan inspirasi, rasa bahagia, perasaan haru, juga beragam nuansa lain yang membuat hidup sedikit lebih berwarna."

Pasti harapan adanya di masa depan, tidak ada harapan di masa lalu, karena yang ada di masa lalu hanyalah penyesalan (jieeeh kalimat barusan itu by me, loh). Bila seseorang seseorang sedang berharap, menurut saya, dalam dirinya terjadi proses yang mengarahkan dia untuk menjadi utopis dan visioner.

Antara kedua jenis itu yang saling membedakan hanya satu, yaitu usaha. Yup! Dengan harapan yang sama, namun bila saya hanya melamunkan tanpa usaha dan dengan melangkah menuju harapan itu, saya tidak lebih dari seorang utopis... Jeleknya, utopis hanya akan menganggap harapan itu mimpi belaka yang jauh dari kenyataan. Berbeda dengan si visioner yang cenderung bekerja keras membuat harapannya menjadi nyata. Sapa saja Edison dengan bola lampunya, Bill Gates dengan Micrsoftnya, dan tentunya.... Ibnu Sina dengan berbagai temuannya dalam bidang kedokteran.

Semuanya dimulai dari sebuah harapan dan langkah selanjutnya yang membedakan saya, kamu dan dia dengan tokoh-tokoh besar di muka bumi ini hanyalah sebuah usaha. Saya tersentak dengan sederetan kalimat dalam artikel yang baru saja saya baca..."Saya ingat ucapan penulis buku best seller yang saya sebut terakhir, yaitu Aa Gym, agar sebaiknya kita bermimpi ketika tersadar karena gratis dan tidak bayar serta dapat membayangkan yang paling spektakuler sekalipun."...

Kenapa harus ketika tersadar? Sebab, pada saat itulah kita bisa merealisasikanya menjadi sebuah kenyataan....karena tanpa kesadaran tidak mungkin melahirkan sebuah usaha.

Jadi, biarkan saja dulu saya bermimpi menjadi penulis buku yaaa.

Sumber
http://www.negeri-senja.com/archives/2004/07/
http://www.matabaca.com/news.php?id=10
pict from corbis

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home