Meitheamh 16, 2004

Mari Menangis Sekali Lagi

Pagi tadi di layar kaca saya lihat darah dan buraian usus sambil menikmati sepiring sarapan nasi dan segelas kopi kapal api. Malam sebelumnya aku pandangi ibu-ibu yang mati kaku dengan leher menjulur dan mata melotot dengan seutas tali yang belum lagi lepas dari lehernya sambil mengunyah gorengan yang baru saja dibeli.

Dulu ketika awal-awal tayangan brutal, seingat saya dimulai oleh stasiun televisi ANTV deh, tayangan yang tepat untuk membuat perut anda mual. Namun seiring jalannya waktu dan semakin banyaknya tayangan-tayangan serupa bahkan lebih sadis dengan jam tayang yang lebih sering perasaan mual itu mulai hilang dan main lama makin kebal, malah bisa sambil makan dan ngemil segala.

Sama juga dengan tayangan brutal dan kriminal di TV, buat saya komedi juga semakin hari semakin tidak terasa. entah memang sayanya yang kebal atau mmg mutu komedian Indonesia yang gitu-gitu aja ga ada perkembangan. Jaman saya menimba ilmu dulu ada beberapa grup lawak favorit yang ga bisa nggak ditonton antara lain, berdasarkan waktu pemunculan : Srimulat, Bagito (walaupun mereka ga mau disebut sebagai pelawak, tapi komedian), Patrio dan terakhir Parlemen RI (bukannya menghina tapi memang tingkah polah anggota grup terkahir ini sungguh menggelikan).

Kenyataanya sekarang jarang banget bisa tertawa terbahak-bahak, mungkin karena dulu saya begitu terkocok perutnya sampai-sampai sudah habis persediannya tawa saya. Semakin hari semakin hambar dan semakin biasa saja melihat tayangan grup-grup produsen ketawa yang saya sebut diatas dan juga semakin hari tayangan brutal hanya mirip film kartun yang bisa diketawain bila ada kepala pecah atau jari tangan terputus. Apa sebab?

Konon katanya ini semua ada hubungannya dengan hati yang semakin mengeras. Bila hati mengeras dalam istilah kedokteran disebut "serosis hepatis", maka hati mengeras dalam konteks saya disebut "tuna empati" mirip dengan tuna rungu, tuna wisma dan tuna susila. Tuna empati berati penderitanya tidak memiliki empati, sejajar dengan tuna rungu dan tuna tuna lainnya, tuna empati bisa juga disebut sebagai orang cacat atau disable dalam bahasa Inggris.

Kebiasaan melihat kekerasan dan tertawa terbahak-bahak adalah sebabnya. Akibatnya semakin hari hati semakin kebal melihat ketimpangan disekitar sepertinya pengemis di pinggir jalan hanya mirip tiang listrik yang bisa disendirin, ditempelin poster kampanye, ditabrakin, bahkan dikencingin anjing pokoknya bisa diapain saja kecuali di kasih sedikit perasaan.

Saya pribadi bila merasa hati sudah semakin keras hanya satu yang saya rasakan harus dilakukan, yaitu menangis. Biarlah anda menuduh saya cengeng, tapi setelah menangis rasanya ada lapangan bola di hati saya. Lapangan tempat dimana anda boleh berlari, berguling, koprol, salto.

Ada beberapa tempat dan waktu yang bisa membuat saya menangis. Pertama adalah jalan antara rumah saya dan masjid, dimana biasanya dalam beberapa meter sepulangnya dari masjid berbagai renungan tentang kemurahan dan nikmat Allah SWT melintasi benak saya untuk menyadari betapa bodohnya saya selama ini melupakannya. memandangi bintang di langit, lautan luas atau bentangan awan kadang juga membuat saya merasa keciiiiiiiiiiiiil banget, sampai ga terasa tau2 air mata meluncur di pipi.

Kedua biasanya di malam hari pas shalat tahajud, jujur saja akhir-akhir ini males baget utk melakukannya jadi dah lama banget saya merasakan nikmatnya ber tahajud ria. Mudah2an anda tadi malam masih berbagai rasa dengan tahajud....bila memang iya tolong doakan saya untuk segera bergabung dengan anda.



"Bila qolbu itu baik manusia akan baik, bila rusak manusiapun rusak. (Al hadits)."
"Sedangkan inti dari qolbu itu adalah iman. Taqwa/iman itu disini (dalam dada/qolbu) kata Rosul (Al hadits)."

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home