Eanáir 14, 2004

semestinya...

Engkau mestinya banyak-banyak bersyukur
Engkau mestinya banyak-banyak bertafakur
Engkau mestinya banyak-banyak menyungkur
Engkau mestinya banyak-banyak berzikir
Engkau mestinya banyak-banyak bertakbir
Engkau mestinya banyak-banyak berpikir


......

Bukankah Allah telah kasih semuanya
Bukankah Allah telah berikan segalanya
Bukankah Allah telah sediakan semua yang tiada kamu pinta
Bukankah Allah telah merelakan semua milik-Nya
Bukankah Allah telah rida mewakafkan semua nikmat-Nya
Bukankah Allah begitu mengasihimu lebih dari segalanya


Sekelumit tulisan dari sini membuat berfikir kembali telah sejauh mana kesyukuran saya. Semakin jauh usia rasanya tidak membuat semakin dewasa untuk melihat kebesaran-Nya. diberikan kesempatan : sehat dan waktu dua hal yang sering lewat begitu saja, padahal banyak hal-hal yang lebih penting (Seharusnya) di dalam dua kesempatan itu yang dapat saya kerjakan.

Sudah lupa rasanya melihat matahari terbenam sepulang sholat maghrib di masjid, karena waktu-waktu itu telah terpakai oleh kesibukan di kantor atau terjebak hajat besar macet bersama warga Jakarta. Ingin lagi rasanya membiarkan pipi basah pada sepertiga-sepertiga malam tetapi rasa lelah dan kantuk ini begitu kuat membuat mata berat sekali untuk dibuka padahal dentang jam dinding dan alarm memekakkan telinga.

Tiap minggu muncul kembali dengan catatan di hati ingin lebih baik, ingin berubah ingin puasa senin kamis ingin ini ingin itu...ingin kayak si dia dan si itu, tapi belum lagi setengah hari sudah hilang baunya ntah kemana.....sgala catatan itu terbenam di antara dunia dunia.

Ah...kembali si waktu disalahkan (kata sang waktu "apa salahku?") mencoba melepaskan diri dari kenyataan.

Sahabat ke mana saja kalian? tidakkah kalian lihat aku semakin tenggelam?....raihlah tanganku ini biarkan aku berdiri di sana kembali....memandang ke depan bersama-sama lagi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home