Iúil 04, 2005

Apakah hidup semakin mudah?




Apakah hidup semakin mudah bagi pecinta buku? ya itu pertanyaanya. Ketika dulu Avlin Tofler meramalkan buku berbahan kertas akan tergantikan oleh alat-alat elektronik. Banyak sekali tanggapan orang yang positif dengan ramalan dan arah perkembangan teknologi yang terjadi saat itu. Munculnya alternatif media baca yang didukung oleh perkembangan teknologi semakin membuat harapan buku-buku yang berbahan kertas akan segera bergeser.

Beberapa media baca dan teknologi yang menyertainya sempat beberapa tahun lalu menjadi momok. Antara lain Buku Audible, yang didirikan pada tahun 1995 dengan "isi"-nya yang dapat didengarkan menggunakan piranti bernama MobilePlayer. Sebuah perangkat MobilePlayer dapat menyimpan data audio berdurasi dua jam di jual seharga 99 dolar AS saat itu, apabila anda ingin menyimpan lebih lama maka Audible.Inc menyediakan perangkat yang lebih canggih yang dapat menampung audio berdurasi delapan jam seharga 299 dolar. Kabarnya Microsoft juga ikut menamkan sahamnya pada perusahaan Audible Inc, bahkan juga saat itu menyertakan fasilitas untuk pengguna windows pada PDA agar dapat Buku Audible tanpa harus membeli perangkat MobilePlayer.

Lalu terdengar tentang E-book, mungkin buat anda yang kuliah pada dekade 90-an pernah mendengar gembar-gembor e-book ini. Apalagi bagi saya yang kuliah di sebuah jurusan yang memang berhubungan langsung dengan buku-buku merasa bahwa dengan adanya revolusi e-book ini maka buku-buku yang berbahan kertas akan tinggal menunggu waktu saja.

E-book saat itu dikembangkan oleh Nuvo Media dengan Rocket e-booknya, Softbook press dengan Softbooknya dan Everybook. Dengan memanfaatkan teknologi terbaru maka mereka dapat menciptakan sebuah piranti yang lebih tahan lama dibanding generasi piranti sebelumnya. Bahkan perkembangan internetpun dimanfaatkan dengan menyediakan fasilitas download langsung dari piranti tersebut. Oh ya, masing-masing piranti saat itu tidak dapat membaca file yang diproduksi saingannya.

Piranti yang dikembangkan semakin dibikin semirip mungkin dengan kebiasaan seseorang ketika membaca buku dengan bahan kertas biasa. Karena ringannya piranti e-book maka diharapkan kebiasaan membaca sambil tidur-tiduran pun masih dapat dilakukan. Bahkan bila anda terbiasa melipat kertas dalam buku sebagai pembatas, e-bookpun menyediakan fasilitas yang mirip dimana bila anda menghidupkan piranti tersebut akan segera menuju halaman terakhir yang anda baca.

Harap diingat bahwa dua perkembangan teknologi yang saya sebutkan di atas merupakan perkembangan yang terjadi pada dekade 90-an. Sekarang, di tahun 2005 ini apakah anda pernah menyentuh piranti yang saya sebutkan di atas? Kecuali mungkin PDA yang dikembangkan microsoft itupun mungkin dengan tujuang lain daripada memanfaatkan buku audio saya percaya sebagian besar pembaca menjawab belum pernah.

Sampai detik ini sebagi pustakawan saya melihat bahwa ternyata perkembangan teknologi media baca masih sama dengan seratus atau dua tahun lalu, sangat jauh dari yang diharapkan oleh para pengembangan e-book dan audiblebook. Bahkan perpustakaan tempat saya bekerja masih mengandalkan microfilm untuk mendokumentasikan koran-koran daripada dijitalisasi, dengan pertimbangan dijital lebih ringkih dibanding microfilm yang dapat tahan sampai 500 tahun dengan perawatan yang tidak begitu merepotkan.

Teknologi e-book dan audioble yang diharapkan menggantikan buku dari bahan kertas memang sampai detik ini (masih) tidak senyaman dengan buku biasa, akui saja. Bayangkan ambil contoh untuk sebuah PDA saja, saya ambil contoh PDA karena saya melihat piranti ini yang masih berkembangan sampai sekarang walau tidak berfungsi khusus untuk media baca saja. Walaupun PDA dapat menampung file-file pdf tidak sedikit (tergantung besar kecilnya media penyimpan PDA anda), namun untuk mendapatkan sebuah PDA saja anda harus merogoh kantung sangat dalam karena memang piranti tersebut tidak murah. Belum lagi, bila tiba-tiba terjadi kerusakan baik akibat virus atau penyebab lainnya, untuk membetulkannya saja lagi-lagi anda harus merogoh kantung.

Kurangnya penyedia file-file buku semacam pdf yang dapat di download di internet juga menjadi kendala yang sangat berarti. Bolehlah, memang benar cukup banyak file tersebut ada saja di internet tapi itu kalau memang anda rela membelinya. Namun se rela apa -untuk ukuran orang Indonesia- anda mau membeli buku dalam bentuk file yang di download via internet? Masih dibutuhkan penelitian lebih dalam lagi, tetapi saya sangat yakin bahwa rata-rata Orang Indonesia keberatan untuk mendownload file buku yang mereka butuhkan, kecuali gratis atau terpaksa.

Ya UUD (Ujung-Ujungnya Dodol) memang masalah yang sedikit banyak sangat beperan sekali pada perkembangan piranti media baca elektronik semacam e-book dan audiblebook. Buat apa misalnya mendownload dari luar negeri buku karya JK Rowling dari Amazone atau portal lainnya, padahal untuk buku yang sama dan dicetak di Indonesia masih bisa lebih murah. Bahkan, bukannya saya mendukung bajakan, bila anda tidak tahu malu membeli buku bajakan dengan judul yang sama akan lebih (sangat) menghemat.

Belum lagi soal kebiasaan membaca, ok lah saya sangat takjub dengan ukuran PDA yang ringkes dan ringan. Hei... bila saya punya PDA saya akan menjaganya dengan sangat hati-hati mengingat PDA merupakan alat yang cukup ringkih dan mahal. Tidak akan misalnya saya akan membaca buku melalui PDA sambil tiduran-tiduran menjelang malam karena resikonya bila jatuh atau tertindih akan membuat saya nyengir miris. Saya juga tidak akan melempar sembarangan PDA setelah membaca, akui saja anda pasti suka melempar buku ke atas lantai atau meja setelah membacanya bukan?

Banyak sekali faktor kenapa saya lebih memilih buku berbahan kertas dibanding media elektronik anda pasti sudah tahu kenapa bila membaca dengan seksama di atas. Ya bolehlah, perkembangan teknologi memang sangat membantu dunia buku, saya percaya itu memang terjadi. Lihat saja bagaimana dengan adanya teknologi yang canggih buku-buku dapat didisain dengan lebih menarik. Pemasaran juga menjangkau pangsa yang lebih luas berkat adanya teknologi terutama internet, bahkan saat ini anda dapat memesan buku langsung dari depan komputer tanpa harus datang ke toko buku.

Ya benar, teknologi memang sangat berguna. Namun bila saya harus memilih antara buku-buku berbahan kertas dengan buku-buku berupa file-file yang ada dalam PDA atau piranti elektronik lainnya, saya jujur saja akan lebih suka memilih buku dari bahan kertas.

Rasa-rasanya sangat nikmat setelah membaca saya bebas menjadikan buku pribadi saya sebagai bantal atau guling. Ada kenikmatan tersendiri ketika memandangi deretan-deretan buku di rak buku pada ruang tamu saya. Buku-buku yang mungkin selama ratusan tahun ke depan masih akan ada di sana dinikmati anak cucu saya tanpa harus khawatir memback up file ketika akan mengformat PDA atau terserang virus yang berkala menyerang komputer.

Jadi, apakah hidup semakin mudah bagi anda dan saya yang menggemari buku? Saya akan menjawab iya memang benar. Namun dari perspektif yang menurut saya mungkin berbeda dan tidak semaju pendiri e-book dan Audiblebook. Saya akan menempatkan diri saya lebih mundur sedikit sambil memeluk buku "Elegi Guttenberg : memposisikan buku di era cyberspace" karya Putut Widjanarko yang berbahan dasar kertas itu.

Maaf teman-teman pecinta lingkungan....tampaknya gara-gara saya pohon-pohon di Hutan Kalimantan dan Irian Jaya sana masih akan ditebangi sedikit banyak gara-gara saya juga,...sekali lagi saya minta maaf.

-----------------------------------------

*Saat ini Google sedang mengembangkan perpustakaan dijital bekerjasama dengan beberapa perpustakaan terkenal di Amerika Serikat antara lain Harvard, Stanford dan Oxford. Bermodalkan 200 juta dolar AS beharap dalam sepuluh tahun proyek ini memudahkan orang mendapatkan buku-buku via google dengan lebih mudah.

Namun tak ayal proyek google ini diprotes keras terutama oleh negara-negara Uni Eropa. Prancis termasuk yang paling keras menentang poyek Google yang dituduh sedang meng Amerikanisasi Dunia melalui dunia Maya, bahkan Prancis mengusulkan Eropa mengembangkan mesin cari yang dapat menyaingi ke piawai an Google.

*Sebenarnya Dijitalisasi buku-buku telah dilakukan sejak tahun 1971 oleh Michael Hart. Bertujuan mendijitalkan buku-buku sastra, proek ini disebut Proyek Guttenberg. Sampai detik ini sudah berhasil mengumpulkan 16 ribu judul buku, dan tentunya siapa saja dapat mendownloadnya secara gratis http://www.gutenberg.org/

0 Comments:

Post a Comment

<< Home