Nollaig 13, 2004

Dont Torpedo me!!



"Indonesians eat rice a lot. Lunch, for example, you'll see people with a plate full with rice and a piece of chicken, or fish, or eggs and "sambal" (chillie souce). Indonesians like to eat hot (as in spicy) food. I mean really really really HOT. I would say it is hotter than Mexican food. Even we put chillie in pizza!!! (It's wierd to me. But then again, I am the wierd one ... I cannot eat spicy/hot food!.) If you order food, make sure you say no chilly or no spicy. Otherwise, the default is HOT! There was a friend from Netherland who think that he can handle hot food. (The Dutch like spicy food too.) Boy, he was wrong. He spent two days in his hotel to recover the stomachache" kutipan dari sini

Sepertinya bila merujuk ke paragraf di atas kita orang Indonesia cukup aneh ya? Apalagi bila melihat kebiasaan makanannya. Paling tidak begitu menurut Orang Asing terutama non Asia yang melihat kebiasaan makan kita sehari-hari.

Sebenarnya itu tidak seberapa, masih banyak makanan khas kita yang bagi orang Indonesia sendiri cukup membuat perut mual. Contohnya yang paling banyak dijual di pinggir-pinggir jalan di Jakarta adalah salah satu menu yang ditawarkan oleh penjaja sop kaki kambing...torpedo.

Tahukah anda apa itu torpedo? Bagi kebanyakan bapak-bapak menu ini bukan barang aneh. Walau saya sendiri lebih memilih untuk tidak memakannya. Torpedo diambil dari alat genital kambing yang dipercaya memilki khasiat tertentu bagi si bapak.

Selain itu, saya menemukan beberapa makanan yang cukup "mengerikan" untuk dimakan walau konon rasanya tidak kalah dengan ayam panggang atau ati goreng misalnya. Ketika kemarin saya pulang kampung di Kereta Api beberapa kali saya temukan penjaja cemilan yang hampir berbentuk seperti ati ayam. Di jual dalam kemasan plastik dan tentunya dengan harga yang cukup murah, makanan itu terbuat dari bahan utama (100 % bahan utama tepatnya)...bekicot. Di Perancis dihidangkan di restoran-restoran mewah, namun membayangkan sosok awal pemilik potongan-potongan daging mirip ati ayam itu tak urung membuat saya bergidik juga.

Masih di seputar Jawa, entah nama makannya apa, saya menemukan di kampung asal ibu saya, laron bukan barang yang aneh untuk dijadikan makanan. Bisa di sayur, di goreng (jadinya seperti peyek) atau di goreng dengan bahan-bahan campuran lainnya. Cara menangkapnya cukup mudah, bila sedang musim laron (biasanya ketika musim hujan) maka sediakan saja ember berisi air di dekat cahaya. Maka laron-laron akan dengan sendirinya terjebak di sana. Yah itung-itung mengurangi perkembangan hama rayap lah...

Makanan aneh, sebenarnya bukan monopoli orang Jawa atau Indonesia saja. Di Filipina dan Vietnam terkenal jenis makanan yang berasal dari telur bebek bernama Balut atau bahasa Vietnam nya vit lon. Bukan sembarang telur namun telur ini berisi janin bebek setengah jadi.

"One of our most popular products is the balut (Filipino) or hot vit lon (Vietnamese). This is a duck egg that has been incubated 17 days and removed for boiling and consumption. It is considered a delicacy and is highly nutritious."

Di kota-kota tertentu di Cina daratan, saya pernah menyaksikan dalam sebuah serial TV mereka gemar sekali memakan masakan dengan menu daging tikus. Berbagai jenis olahan daging tikus tersedia di sana. Bahkan beberapa restoran memajang tikus hidup di etalasenya agar pelanggan dapat memilih tikus mana yang ingin dimakan.

Cara membuatnya sedikit berbeda dengan binatang laennya. Biasanya tikus-tikus yang akan disajikan direbus dulu hidup-hidup. Ini adalah cara terbaik untuk melucuti bulu-bulunya. Ingat, mereka tidak suka tikus itu dipotong, seperti layaknya kambing, sapi atau ayam. Karena menurut mereka darah tikus membuat makanan semakin sedap. Selanjutnya setelah direbus dibersihkan sisa sisa bulu yang tersisa dan diolah seperti makanan jenis makanan laennya. Hmmm mengundang selera bukan? (not!)

Kembali ke Indonesia, seorang teman yang waktu itu berkunjung ke Kota, bercerita tentang pengalamannya mencari makanan yang eksotik. Salah satunya adalah makanan yang diambil dari otak monyet. Jadi begini, kepala monyet di pasung pada semacam pemotong berbentuk melingkar yang disesuaikan dengan kepala monyet yang akan disediakan. Lalu bila ada pembeli yang tertarik maka si penjual tinggal menggerakkan pemotong itu...sreet sreet. Terbentanglah di depan mereka, otak monyet dengan kulit yang sudah terkelupas...segede kelapa menurut teman saya itu. Dengan sendok, si pembeli menyuapi otak monyet itu...similiar bila anda menyuap puding susu....Oh ya demi alasan kesegaran selama proses itu berlangsung monyet dibiarkan dalam keadaan hidup....

Sebenarnya apa sih alasan orang begitu gemar dengan makanan yang aneh-aneh seperti itu? Pertanyaan besar bukan? Sebanarnya tidak juga, ternyata sederhana saja alasan mereka mencari dan memakan makanan aneh tersebut : adalah atas nama "kejantanan". Torpedo, otak monyet, sirip hiu....bahkan cula badak!! Semua memiliki mitos makanan yang katanya dapat meningkatkan gairah pria. Padahal belum lagi terbukti secara ilmiah namun badak bercula satu sudah hampir punah begitu juga dengan hiu.

Alasan kedua adalah balas dendam, tikus dan keong termasuk contohnya,seperti yang kita ketahui tikus dan keong menggangu tanaman para petani...bahkan mereka masuk dikatagorikan sebagai hama. Nah alasan manusia memakannya adalah untuk balas dendam karena mereka (atau terman teman mereka) telah merusak ratusan hektar sawah yang sudah ditanam susah payah. Walau pada perkembangannya, dua jenis makana tersebut tidak lagi menjadi alasan untuk membalas dendam bahkan naek kelas menjadi makana mewah seperti apa yang terjadi di Cina dan Prancis.

Wah wah wah...kita hidup di dunia yang aneh bukan.

NB: Tadinya ingin saya sertakan ilustrasi dari beberapa jenis makanan di atas. Namun atas alasan etika...saya mengurungkannya :)

Sumber :
http://indonesia.elga.net.id/indoway/food.html
http://tafkac.org/food/chinese_restaurant_rats_etc.html



0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home