Deireadh Fómhair 11, 2004

Things Librarian dislike...


....
Therefore wise people embrace the Library
and set an example to all.

Not making a fuss,
they shine forth.

Not seeking to justify themselves,
they are distinguished.

Not boasting,
they receive recognition.

Not bragging, they never falter.
They do not quarrel, so no one quarrels with them.


Menjadi pustakawan memang memerlukan pengorbanan, namun-seperti kata pepatah Give Some Lose Some-pengorbana adalah hal yang mutlak harus dilalui sebelum target sebenarnya terjadi. Bahkan, bicara lebih luas lagi, Hasan Al Banna pernah bilang bahwa tidak ada dakwah yang bisa hidup tanpa jihad, di mana jihad itu sendiri bukan berati hanya perang, tapi segenap pekerjaan kita bisa juga jihad, hingga tidak ada sampai kapan pun dakwah bisa berjalan dengan lancar tanpa harus berjihad atau berjuang.

Kembali ke masalah pustakawan tadi, memang berkorban adalah suatu keharusan demi tujuan kami, para pustakawan, tercapai, yaitu membuat pemakai perpustakaan terpuaskan dahaganya atas keingintahuan mereka. Pustakawan adalah to serve and to protect (kayak polisi, khan). Kami melayani Anda, pemakai, berusaha sebaik mungkin memenuhi kebutuhan Anda ketika dalam perpustakan. Perlu diperhatikan, hal itu tidak termasuk membelikan Anda makanan, memijit, membuatkan minuman, atau mencuci pakaian Anda. Kami sebisa mungkin berusaha melindungi warisan ilmu perngatahuan, sari pati buah pikir masyarakat tempat perpustakaan itu berada. Jadinya klop, bukan... pustakawan adalah to serve and to protect. :)

Tapi, ada kalanya karena pustakawan juga manusia, beberapa hal perpustakaan membuat kami merasa terganggu... atau dalam bahasa orang Jawanya iritated. Mau tahu? Harus tahu, deh, karena suatu saat Anda pasti akan nyasar ke gedung dengan papan bertuliskan "PERPUSTAKAAN" di depannya. Agar Anda tahu kapan saat-saat indah dapat tercapai bersama pustakawan Anda. :)

Beberapa hal yang harus dipahami oleh pemakai perpustakaan adalah kadang pustakawan tidak suka dengan pemakai dengan tipe yang sok tahu, tapi ujung-ujungnya malah nol besar dan membuat pustakawan kerepotan. Tipe pemakai ini biasanya datang ke pustakawan dengan gaya seakan sudah tahu semua jawaban, baik dari di mana koleksi yang dia perlukan atau beberapa hal tentang peraturan perpustakaan, seperti dilarang makan di ruang baca (kecuali pustakawan he he he). Mereka mungkin datang ke pustakawan untuk bertanya sesuatu, namun gaya mereka membuat pustakawan terpojok dengan pertanyaan yang lebih mirip tes daripada permintaan tolong. "Loh, Pak, kok begini? Di perpustakaan .... khan begini," ... dan berbagai macam pertanyaan yang mirip.

Menuntut ini itu pada pustakawan, padahal dana terbatas. Ya, terutama, bila Anda bekerja pada perpustakaan perguruan tinggi di mana tuntutan dosen dan mahasiwa begitu kompleks demi memenuhi dahaga mereka akan ilmu pengetahuan. Namun, di sisi lain, pustakawan sebagai pelaksana program perpustakaan tidak dapat berbuat banyak karena kurangnya perhatian dari Manajemen PT... terutama dalam bentuk dana.

Ahh, mungkin masih akan bertambah beberapa paragraf lagi bila dikeluarkan semua uneg-uneg ini. Tapi, saya rasa cukuplah sampai di sini sebelum semua keluhan ini menghalagi perkerjaan saya, yaitu melayani Anda demi keingintahuan Anda akan ilmu.

Jadi, terimalah kami apa adanya ya :)

sumber Librarian's Lao Tzu
edited by nining
pict from Corbis


0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home