Meán Fómhair 21, 2004

...adakah lain waktu lagi itu?




"Laen kali kalo jalan ama Yayan ingetin parkirnya di mana tuh Man" canda Nining ketika kami stuck di sebuah Mall Jakarta.

Siang itu tidak ada bedanya dengan siang kemarin dan lusanya panas begitu menyengat, seakan menghabiskan radiasi yang harus selesai dilepas ke muka bumi sebelum hujan pertama tiba.

Sebuah pesan di window YM mengajak bertemu tiba-tiba muncul. Sebenarnya dari semua pilihan yang mungkin ada di hari ini saya tidak pernah mengira akan ada pertemuan off line. Memang sih ini bukan barang baru karena beberapa kali saya pernah bertemu off line dengan kawan-kawan internet sebelumnya, tapi entah mengapa kok ya ajakan kali ini terasa begitu aneh.

Mungkin beberapa alasan adalah hari ini saya masih juga belum cukur rambut padahal sudah sebulan lebih dari terakhir saya membabat bagian atas kepala saya ini. Belum lagi baju yang kucel entah mengapa, dan tentunya bekas-bekas alergi di tangan yang membuat saya semakin enggan untuk mengiyakan permintaan off line...ditambah lagi isi kantong yang sama keringnya dengan beberapa sumur di Pulau Jawa...aaaah rasa-rasanya saya akan menolak ajakan itu.

Tapi, entah apa yang membuat saya berubah fikiran. Tiba-tiba saya sudah ada di dalam kopaja dan menjulurkan selembar uang ke kenek sambil berkata "Blok M, Bang! Lalu panasnya Jakarta menggerayangi balik baju saya dan mengundang teman-temannya Si Keringat untuk segera keluar. Untunglah bayangan dinginnya tempat rendezvous pada sebuah toko buku terkenal di Blok M membuat saya bertahan.

Tapi bayangan tinggal bayangan, di sana alih-laih membolak balik buku padahal mengharap angin membuai dari lembaran-lembaran kertas ke leher saya. Beberapa mata penjaga toko melirik curiga membuat saya tersadar lalu pura-pura baca sambil menggumun...aaargh ini Ac irit banget sih. Dan itu, mana sih dua orang yang berjanji akan datang??!!.

Nining...Yayan di mana engkau, lupakah pada janji kita tadi, lupakah kalian dengan ciri-ciri yang aku berikan padamu tadi di YM? Aku dengan baju krem, celana cokelat, sepatu fantovel coklat, rambut keriting dan badan agak sedikit besar?

Setengan jam lebih ketika akhirnya saya putuskan, habis cergam Asterix ini saya baca rasa-rasanya habis juga kesabaran dan segera balik ke kantor. Seorang lelaki dengan badan tidak gemuk dan tidak kurus, bermuka agak lonjong dengan kulit terang menghampiri saya bertanya "Ini Iman?" lalu terbanglah kebosanan dan rasa kesel yang sudah hampir menggunung tergantikan seutas senyum di muka saya :)

Tinggallah obrolan, canda dan beberapa sapa persahabatan kita bertiga ke sini jangan ke mana mana dulu karena aku tidak yakin orang laen akan bisa berbagi kebahagian dengan kami saat itu.

"Kok kamu tinggian di foto sih Ning?" sambil tertawa, padahal saya tidak bercanda oh dia itu walau wajahnya semanis di foto yang saya dapat via YM namun tidak setinggi yang saya kira.

"Dezig!" katanya sambil mengepalkan tangan seperti yang ada di komik-komik Jepang. Rupa-rupanya pekerjaannya sebagai editor komik manga sedikit banyak membawa pengaruh pada dia.

"Kamu kok ga seramai di YM Man?" dan pertanyaan itu kembali muncul. Ya saya sudah hafal memang beberapa teman di YM biasanya bertanya hal ini tiap kali bertemu dengan saya di dunia nyata. Kalimat itu sama dengan dua joke yang sering muncul di depan saya, yaitu joke timbangan dan joke Eidul Qurban, tau khan? Biasanya sih di akhir joke itu..."mohon pergunakan timbangan ini satu-satu" dan "lu ngumpet Man, tar disangka kurban lagi"....jadi aaah gimana gitu deh ya :D

Yayan? Ya bagaimana dengan bapak lima anak itu? Ah ternyata begitu banyak yang rindu dengannya sampe-beberapa kali HPnya berbunyi membawa dia ke dunia di sebelah ujung jaringan telepon sana dengan ber "haik haik"-ria yang hanya Nining mengerti. Di depan muka saya Nining berkata berbisik tepatnya "bahasa Jepangnya jago amat" dan saya cuman bisa menjawab dengan "ooh".

Suapan terkahir nasi goreng, selurupan habis jus mangga dan mungkin lembaran terakhir lima puluh ribuan Yayan keluar dari dompetnya makin mengelembungkan senyum dan saatnya menyudahi pertemuan ini.

Lantai dua atau lantai tiga ketika si empunya mobil kebingungan mencari tempat parkir, sementara Nining dan aku hanya bisa tertawa menahan geli. Canda Nining kala melewati counter olahraga "Laen kali kalo jalan ama Yayan ingetin parkirnya di mana tuh Man"

Ahh membuat saya perfikir...akan adakah lain waktu lagi itu nanti?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home