Samhain 03, 2004

Library How to : Anda dan jagad raya itu




Menurut Anda, bagaimana caranya perpustakaan-perpustakaan besar yang ada di kampus dan kota Anda mengatur koleksi-koleksi mereka sehingga mudah untuk menemukan apa yang mereka cari? Padahal, koleksi mereka-tidak seperti perpustakaan pribadi Anda-lebih dari puluhan ribu eksemplar yang tersebar di dalam gedung empat lantai dengan masing-masing luas lantai kadang lebih dari dua ratus meter persegi. Menakjubkan, bukan? Sebab itu, ada seseorang yang menyamakan perpustakaan seperti jagad raya dengan ribuan bintang di sekitarnya, karena Anda akan dengan sangat mudah "hilang" di dalam perpustakaan.

Sebenarnya tidak sedahsyat itu, namun akan sama sulitnya bagi Anda mencari bintang yang tepat di atas langit pada malam hari dengan mencari satu judul buku dalam perpustakaan, sebut saja Perpustakaan Nasional di Salemba Jakarta, tanpa alat bantu sama sekali.

Begini. Bila Anda belum faham yang saya maksudkan, saya ingin Anda menyimak pepatah yang mengatakan, "seperti mencari jarum dalam jerami". Maksud saya, apakah orang yang pertama kali mengatakan pepatah itu pernah mencobanya dengan mencari jarum dengan magnet, atau bila dia ingin repot sedikit bisa dengan detektor logam, tentunya akan jauh lebih mudah.

Begitu juga dengan perpustakaan. Bisa saja Anda meletakkan buku-buku di perpustakaan Anda seadanya saja, mungkin saat ini tidak lebih sulit dari menunjuk matahari di siang hari. Namun, lihat saja nanti setahun dua tahun lagi. Akan lebih sulit mencari apa yang Anda inginkan di perpustakaan Anda, dan apabila Anda masih membiarkan perpustakaan tersebut seperti sedia kala, mungkin setahun kemudiannya lagi Anda bukannya lagi memiliki perpustakaan, melainkan sebuah gudang buku yang tidak terurus.

Ilmu perpustakaan mengenal beberapa sistem untuk membantu Anda dalam memenej koleksi perpustakaan. Sistem paling utama yang akan saya sampaikan di sini adalah sistem pengelompokkan. Pengelompokkan di perpustakaan umumnya berdasarkan ilmu murni (atau subjek) dan setiap kelompok diwakilkan dengan notasi-notasi atau nomor-nomor agar lebih mudah. Misalnya, buku-buku ilmu psikologi akan dikelompokkan bersama-sama dan diwakilkan dengan notasi 100, buku-buku agama diwakilkan dengan 200, dan lain-lain. Semakin spesifik subyek dalam buku akan semakin panjang notasi, seperti 330.959.8 artinya adalah "kedaan ekonomi di Indonesia". 330.9 untuk keadaan ekonomi dan 598 mewakili Indonesia. Bayangkan bila saya harus menentukan notasi untuk subyek "keadaan ekonomi Indonesia pada akhir abad ke-19". Notasi-notasi seperti itulah yang biasa Anda lihat di perpustakaan-perpustakaan kampus dan/atau perpustaan umum pada label punggung buku koleksi mereka.

Dari mana datangnya notasi-notasi tadi? Sebaiknya Anda menghubungi pustakawan terdekat untuk penjelasan lebih lanjut, karena bila saya jelaskan di sini akan menghabiskan waktu dan kemungkinan besar Anda akan tertidur sebelum saya selesai.

Anda tentunya harus mempelajari sistem pengelompokkan yang saya maksud dan mempelajari bagaimana memberikan notasi yang tepat bagi koleksi-koleksi milik Anda. Sulit, bukan? Namun, Alhamdulillah, ilmu perpustakaan bukanlah ilmu pasti. Apa yang saya sampaikan tadi bukanlah seperti "2 + 2 = 4". Ilmu perpustakaan adalah bagaimana Anda memenej "jagad raya" Anda agar lebih mudah digunakan. Itulah sebabnya saya ingin Anda mengikuti rumus ini, yaitu "2 + 2 = tidak terhingga".

Anda bisa saja mengelompokkan buku-buku di perpustakaan berdasarkan apa saja yang Anda inginkan, sepanjang hasil dari sistem pengelompokkan tersebut memudahkan Anda dalam mencari buku-buku yang tepat, walaupun kenyataannya pengalaman berabad-abad ilmu perpustakaan telah menghasilkan sistem pengelompokkan berdasarkan ilmu murni (atau subyek) yang dikenal saat ini. Namun, Anda boleh menciptakan sistem baru, misalnya Anda lebih suka bila buku-buku di perpustakaan di kelompokkan berdasarkan warna atau bahkan berdasarkan tinggi buku sekalipun dan Anda juga bebas menentukan notasinya (kasarnya) terserah Anda. Saya beri contoh: warna merah sama dengan ilmu-ilmu sosial, kuning sama dengan cerpen, novel dan buku buku komik, dan seterusnya.

I have a library !
Apabila Anda telah melaksanakan tahap terakhir dari dua tahapan penting pembentukan perpustakaan, saya rasa Anda telah pantas menempelkan sticker "I Have a Library at My Home" di bawah sticker "Hidup Mulia atau Mati Syahid" di kaca belakang mobil Anda, atau depan pintu kamar Anda.

Satu hal yang pasti, apa yang akan Anda dapatkan pada perpustakaan pribadi di rumah Anda adalah Anda telah belajar untuk membentuk sebuah komunitas "knowledge Sharing" (kalimat ini adalah salah satu yang sampai saat ini saya belum temukan padanannya dalam bahasa Indonesia selain kata "terrorism") di dalam keluarga Anda.

Dua kepala atau lebih tentunya lebih baik dari satu kepala, bukan? Begitu juga dengan menggabungkan koleksi kakak, orangtua dan adik-adik Anda, akan lebih baik dibanding ketika Anda membangun perpustakaan untuk Anda sendiri yang terdiri dari hanya koleksi Anda. Siapa tahu, ternyata di balik gaya kakak Anda yang super cuek ada selera yang bagus dalam membeli buku. Anda juga dapat berbagi dengan orangtua Anda dengan selera mereka akan pengetahuan lewat buku-buku mereka.

Masih banyak hal bagus yang bisa Anda perbuat dengan perpustakaan pribadi Anda. Sama dengan sebuah komputer, semakin lama akan semakin tidak memadai untuk digunakan, perpustakaan juga memerlukan upgrade. Anda bisa menambahkan sistem automasi di perpustakaan Anda dan menambahkan software perpustakaan di komputer Anda untuk membantu Anda memenej perpustakaan. Asal tahu saja, software perpustakaan banyak tersedia baik yang gratis maupun yang bayar. Salah satu software perpustakaan yang dapat di download dengan gratis lewat Internet adalah software CDS/ISIS yang dikeluarkan oleh UNESCO. Sampai saat ini bahkan software tersebut telah under windows, hanya saja untuk memanfaatkannya harus dipelajari lebih lanjut. Anda juga dapat menggunakan software database lainnya yang lebih umum, misalnya Microsoft Acces di mana Anda tidak perlu mendownloadnya karena sudah bawaan dari software Microsoft Office.

Bahkan, Anda bisa mulai menentang idealisme perpustakaan pada umumnya saat ini, yakni sebagai sebuah lembaga nirlaba (tidak mencari untung) dengan mulai menyewakan koleksi-koleksi (ingat koleksi Anda tidak harus terbatas pada buku belaka) perpustakaan pribadi Anda pada tetangga. Tidak banyak memang, tapi lumayanlah untuk menambah uang saku adik-adik Anda.

Bagaimana? Apakah Anda tertarik menciptakan perpustakan pribadi di rumah? Semoga penjelasan saya akan membuat Anda tertarik untuk mulai membangunnya, atau paling tidak Anda mengerti perjalanan sebuah buku di perpustakaan sampai di tangan Anda dan mulai belajar untuk menghargai buku tersebut.


Baca juga
Herring, James E. Teaching Information Skills in Schools. London: Library Association, 1996.

Knowledge Management for the Information Proffessional. New Jersey: Information Today, 2000.

Trimi, Soejono. Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan. Bandung: Rosdakarya, 1985.

Widjanarko, Putut. Elegi Guttenberg Memposisikan buku di Era Cyberspace. Bandung: Mizan, 2000

pict from corbis

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home