Deireadh Fómhair 23, 2007

Tawaf di Mall : Fenomena Orang Indonesia Menjelang Lebaran

Sudah menjadi rahasia umum, selama ramadhan selain orang-orang heboh itikaf mengejar pahala disepuluh hari terakhir namun lebih banyak lagi yang heboh ber itikaf di mall-mall atau pasar tradisional lainnya.

Kemarin siang, saya dan isteri sengaja mampir ke ITC Depok sekedar untuk mengecek keadaan ATM sepulangnya dari sebuah acara di daerah Tugu, Tana Baru, Depok. Belum lagi sampai di depan ITC kami sudah dicegat kemacetan kira-kira satu kilometer membuat puasa yang tahun ini diterjang dengan panas menyengat semakin terasa saja.

Ternyata setibanya di dalam ITC pun tidak jauh berbeda keadaanya. Sepanjang mata memandang kepala orang saja yang terlihat dari jilbab putih, merah, kunin, biru sampai yang tidak berjilbabpun semuanya ada. AC yang sejatinya dingin, namun tak urung kalah juga melawan lepasan karbon dioksida manusia-manusia yang sedang menyemuti lorong-lorong sempit setiap lantai ITC.

Keadaan tersebut diperparah dengan beberapa pedagang yang dengan seenaknya mendisplay dagangannya melebihi luas area tokonya membuats emakin susah saja untuk mencapai tujuan saya.

Apa yang membuat orang-orang berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan adalah tidak lepas dari tradisi yang sekitar kita yang telah berlangsung lama walau baru sekarang-sekarang ini saja nuansa lebaran sama dengan komsumtif begitu terasa sejak Jakarta di kepung oleh pusat perbelanjaan. Ternyata tidak hanya di Jakarta, warga luar Jakartapun tak mau kalah memanfaatkan kesempatan ramadhan ini dengan berbelanja semuanya ikut ber tawaf mengelilingi pusat perbelanjaan di kotanya.

Ibarat lingkaran ular di atas pagar Tunjangan Hari Raya (THR) dan kejelian pedagang melihat kesempatan pegawai-pegawai berkantong lebih tebal dari bulan-bulan biasanya menjadi penyebabnya. Ditambah lagi kebiasaan muslim Indonesia yang identik hari raya lebaran dengan baju baru...sepatu baru (ada lagunya kan itu).

Lingkaran ular yang membuat para pedagang tersenyum lebar tidak hanya pedagang kelas carrefour atau giant namun bahkan pedagang dadakan yang hanya muncul ketika bulan puasa. Perputaran uang yang pada bulan puasa bisa mencapai 100% tentunnya banyak membuat banyak orang tergiur untuk mencuba peruntungannya di sana. Bahkan Bank Indonesia juga telah mempersiapkan tambahan persediaan uang dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Ini dikarenakan perputaran uang pada hari-hari menjelang dan saat lebaran memang meningkat tajam.

Sepertinya saat ramadhan begini semua orang latah ingin membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu dibeli sekarang dari sepatu baru sampai mobil baru dari baju baru sampai....rumah baru semua atas nama diskon ramadhan. Mengapa tidak memang, lihat saja iklan-iklan di media massa baik cetak maupun elektronik semua dalam rangka ramadhan memberikan diskon yang luar biasa.

Entah dengan anda, namun untuk saya dan isteri kejadian di Depok siang sebelumnya menjadi bahan pembicaraan yang tak habis-habis sampai malam. Kami begitu takjub dengan antusias warga Depok dan sekitarnya memadati ITC (mungkin juga mall-mall lain di dekatnya) dan juga tentu saja...timbul perasaan miris.

Walau entah mirisnya ada dimana, karena tak urung kami tergoda juga untuk bertanya dan mencoba menawar-nawar sofa dan spring bed yang diskon sampai setengah harga.

...aaaah lebaran sebentar lagi



Gambar dr http://pro.corbis.com

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home