Eanáir 23, 2007

Wartawan Perang, Siapa Mau?*



Siapa yang tidak tahu dengan profesi wartawan? Juga dikenal dengan istilah kuli tinta ini telah ada sejak sejarah media massa muncul di atas muka bumi. Karena apalah artinya surat kabar atau televisi dan radio bahkan situs berita di web tanpa ada orang yang bertanggung jawab untuk mencari berita dan menyajikannya ke depan anda.

Berbagai jenis wartawan ada saat ini (tanpa harus menyebutkan medianya) termasuk di Indonesia tentunya. Dari wartawan spesialis gosip sampai dengan wartawan spesialis ekonomi yang faham betul bagaimana perkembangan dari kancing baju yang akan nge-trend tahun ini sampai perkembangan ekonomi makro kita.

Dari banyak macam wartawan yang ada, di Indonesia ada satu jenis wartawan yang kurang diminati, ataupun bila memang ada yang berkecimpung di dalamnya saat ini tidak memiliki "nama" sebesar yang akan saya sebukan di bawah nanti.

Wartawan perang, profesi yang walaupun tidak memanggul senjata namun memiliki resiko yang tak kalah seramnya dibandingkan tentara yang bertugas di garis depan medan perang. Jelas dari namanya saja bisa ditebak kenapa tidak banyak yang menggelutinya.

Seperti apa yang pernah di utarakan pada sebuah kesempatan oleh Ryamizard Kudu "Risiko. Wartawan perang di tempat perang, risikonya kena pelor. Siapa yang mau menjadi wartawan perang, ya... risikonya kena pelor itu". "Tidak hanya terkena peluru," lanjut KSAD, "wartawan yang bertugas di tempat perang juga berisiko disambar ledakan granat, bom, dan lain-lain. Kalau tidak mau ambil risiko seperti itu, ya jangan dong bertugas di lokasi pertempuran," ujarnya.

Adalah De Javanese Prins atau Pangeran dari Tanah Jawa atau Sos yang ganteng (De Mooie Sos). Memiliki nama asli Raden Mas Panji Sosrokartono menjadi wartawan perang asal Indonesia pertama yang meliput Perang Dunia Pertama di seputar Eropa. Setelah menjadi satu-satunya calon yang lulus tes menjadi koresponden pada harian The New York Herald**. Sejak itu beliau berkeliling Belgia, Jerman, Prancis, Swiss, dan Austria selama kurun waktu empat tahun dari 1914 sampai dengan 1918.

Salah satu artikelnya yang cukup terkenal adalah ketika berhasil meliput proses penyerahan Jerman kepada Prancis. Perundingan antara Stresman yang mewakili Jerman dan Foch yang mewakili Prancis itu berlangsung secara rahasia dalam sebuah gerbong kereta api di hutan Campienne, Prancis, dan dijaga sangat ketat. Nama penulis berita itu tak disebutkan, selain kode tiga bintang, kode samaran Kartono.

Sedikit informasi, pada saat Perang Dunia kedua saat Prancis jatuh ke tangan Jerman, Hitler menggunakan kesempatan itu untuk "berbalas dendam". Di mana penandatangan perjanjian tanpa syarat penyerahan diri Prancis dilakukan juga di dalam gerbong kereta. Tidak diketahui apakah itu gerbong yang sama dengan kejadian pada Perang Dunia Pertama.

Saat Perang Dunia Pertama berlangsung Mas Panji Sosrokartono sempat dianugerahkan dengan pangkat Mayor dan diberikan senjata oleh sekutu namun menurutnya saat itu "Saya tidak akan menyerang orang, karena itu saya pun tak akan diserang. Jadi apa perlunya membawa senjata?".

Kita meloncat beberapa kurun waktu melewati momen-momen sejarah sampai akhirnya berita bukan lagi disajikan pada secarik kertas koran atau suara radio. Ya, televisilah yang melahirkan tokoh kita berikut. Sejak bergabung di TVRI tahun 1962 sampai akhirnya pensiun pada 1983 dia menjadi wartawan perang televisi yang melegenda…sampai detik ini.

Hendro Subroto namanya, melalang buana dari Benua Afrika sampai Asia, dari Perang Vietnam sampai Perang Teluk pertama dia ada di sana memanggul kameranya. Namun dari sekian banyak medan perang yang pernah diliputnya perang Kamboja dan Timor-Timur menempati ruang khusus dalam hatinya. Lebih karena di saat Perang Kamboja Hendro adalah salah satu wartawan yang selamat dari ribuan wartawan perang yang kurang beruntung. Bukan karena menjadi korban pada garis depan namun karena penyerangan di jalan-jalan dan penculikan.

Bagaimana berkesannya Hendro pada konflik di Timor-Timur? Baca saja buku karyanya yang terinspirasikan dari pengalamannya di sana berjudul "Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur". Juga di Timor-Timur Tanggal 22 November 1975, di Fatularan, Timtim, Hendro tertembak. Ketika mengikuti pasukan marinis Fretilin menyerang dari 100-an marinir yang dia ikuti, 22 orang di antaranya gugur. Dada kanan Hendro tertembus peluru, pipinya terserempet, dan ibu jari tangan kanannya remuk.

Bagaimana Hendro tercemplung ke dalam dunia yang bagi sebagian orang lebih baik menjauh saja adalah berkat katebelece seorang temannya Hendro diterima oleh TVRI. Karena bercita-cita menjadi penerbang sebelum menjadi wartawan yang membuatnya terdorong untuk meliput berita yang berbau militer.

Salah satu liputannya yang berbekas sampai sekarang adalah beberapa bulan sebelum G30S/PKI meletus tepatnya pada Januari 1965 Hendro berhasil meliput penembakan Kahar Muzakar. Hasil liputannya yang ditayangkan oleh TVRI membuat Bung Karno percaya akan kebenaran berita tersebut.

Menjadi wartawan perang memang tidak seindah mencari berita infotainment (bahkan untuk beberapa orang infotainment bukan bagian dari jurnalistik). Resikonya adalah mati! Ingat bagaimana Ersa wartawan RCTI yang sempat di sandera oleh GAM tewas terkena peluru TNI ketika terjadi kontak senjata.

Belum lagi masalah keberpihakan, ketika meliput berita wartawan perang harus siap akan segala efek yang mungkin akan ditimbulkan oleh beritanya. Bahkan hanya ketika mengemukakan pendapat pribadinya yang tentunya pendapat tersebut dikeluarkan bukan pendapat biasa saja alias berdasarkan pengalaman dan profesionalisme….hanya saja mungkin cukup sensitif saat konflik berlangsung.

Seperti yang dialami oleh Peter Arnett pada tahun 2003, peraih Pulitzer dan veteran wartawan perang Vietnam dipecat dari National Geographic. Arnett memang telah menerima permintaan TV Irak untuk melakukan wawancara bagi TV milik pemerintahan Saddam Hussein. "Tindakan Arnett menerima permintaan wawancara tak tepat waktunya pada saat perang berlangsung. Dan juga sangat keliru bagi Arnett mengemukakan pendapat dan pandangan pribadinya mengenai perang dan strategi pasukan gabungan," kata pihak NBC.

Sedemikian pentingnya keberadaan wartawan saat sebuah negara terlibat konflik sempat terlontar oleh Mantan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Hugh Shelton, menurutnya "Anda tidak akan memenangkan pertempuran bila CNN tidak menyatakan Anda menang." Sementara Presiden Lyndon B Johnson dengan miris mengatakan, "Jika saya telah kehilangan Walter Cronkite, saya kehilangan Vietnam."

Walter Cronkite adalah wartawan televisi CBS yang bertugas di Vietnam, berbalik menentang perang setelah menyaksikan kian banyak tentara AS pulang dalam kantong-kantong mayat dan makin brutalnya pertempuran di lapangan.

Pengalaman dan persiapan yang matang sangat dibutuhkan sebelum terjun ke kancah peperangan. Bahkan kadang fihak militer ikut serta melatih wartawan-wartawan tersebut walau tidak dengan memegang senjata namun cukup berbau militer. Sehingga wartawan tidak menjadi gagap ketika menghadapi situasi tertentu, sebut saja kontak senjata, dalam dalam medan perang yang jelas berbeda dibandingkan berburu berita gosip artis.

Selain tentunya juga kelihaian bercincai-cincai ria, karena menurut Hendro, yang juga hobi fotografi ini, lebih sulit dibandingkan meliput keadaan peperangan adalah mengurus izin agar wartawan dapat menembus berbagai birokrasi hingga akhirnya sampai pada lokasi liputan. Kelihaiannya Hendro Subroto akhirnya pada 1991 membawa dia dan kameramen TVRI terangkut (resmi terangkut) bersama 100 wartawan lainnya dalam Perang Teluk yang mana dari 100 wartawan tersebut ke 98-nya adalah Orang Amerika.

So…siapa mau jadi wartawan perang?
=============================================
* Dari berbagai sumber

** The New York Herald adalah koran yang diterbitkan di New York dan bertahan hidup dari 1835 sampai 1924. Pada Perang Dunia I, koran ini juga terbit dalam edisi Eropa. Surat kabar ini kemudian melakukan merger dengan The New York Tribune, menjadi The New York Herald Tribune yang terbit sampai hari ini

-Foto Hendro Subroto dari Angkasa Online
-Foto siluet tentara berbaris karya Frank Hurley. Tentang Fotografer spesialis perang Frank Hurley bisa ditemukan dalam situs http://www.greatwar.nl

4 Comments:

Anonymous magenda said...

wah jadi seneng baca2x tentang bokap gue ...thx ye

1:19 a.m.  
Blogger Nurhasanudin said...

Gue angkat jempol atas profesi dan pengalaman bokap lo gen..........salut............*ndiens*

11:47 p.m.  
Blogger Danny said...

bravo gen buat bokap lo ..

1:05 a.m.  
Blogger Aditima Astuti said...

Saya. Sungguh saya ingin jadi wartawan perang.

8:30 a.m.  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home